Perkembangan Religiositas Pada Usia Anak


PERKEMBANGAN RELIGIOSITAS PADA USIA ANAK

Religiositas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia (Clark, 1958, hlm. 85). Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada perilaku sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja, dan dewasa.

Karakteristik Religiositas Usia Anak
Rumusan Clark tentang delapan karakteristik religiositas pada anak :
1. Ideas accepted on authority : Semua pengetahuan yang dimiliki anak semua datang dari luar dirinya terutama dari orangtuanya.
2. Unreflective : Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas, maka jarang terdapat anak yang melakukan perenungan(refleksi) terhadap konsep keagamaan yang diterima.
3. Egocentric : Mulai usia sekitar satu tahun pada anak berkembang kesadaran tentang keberadaan dirinya.
4. Antropomorphic : Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia.
5. Verbalized and ritualistic : Perilaku keagamaan pada anak, baik yang menyangkut ibadah maupun moral, baru bersifat lahiriyah, verbal dan ritual.
6. Imitative : Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya.
7. Spontaneous in some respects : Berbeda dengan sifat imitatif anak dalam melakukan perilaku keagamaan, kadang-kadang muncul perhatian secara spontan terhadap masalah keagamaan yang bersifat abstrak.
8. Wondering : Ini bukan ketakjuban yang mendorong munculnya pemikiran kreatif dalam arti intelektual, tetapi sejenis takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka di depannya.

Proses Perkembangan Religiositas Anak
Religiositas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang usia remaja. Dalam proses tersebut faktor internal dan eksternal berperan.

Empat faktor yang berpengaruh dalam proses perkembangan religiositas anak yaitu :
1. Peran Kognisi dalam Perkembnagan Reliositas Anak. Konsep tentang nilai-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar pembentukan religiositas masuk ke dalam diri anak melalui kemampuan kognisi. Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dari luar individu.

Pada usia anak menurut Plaget perkembangan kognisi mengalami empat dari lima fase perkembangan berikut ini yaitu :
a. Period of sensorimotor adaption, birth – 2 years. Anak sedang dalam proses mengaktifkan semua alat inderanya untuk berfungsi secara baik dalam menyerap informasi.
b. Development of symbolic and preconceptual thought, 2-4 years. Pengalaman keagamaan terbentuk melalui pembiasaan perilaku dan pnyerapan terhadap semua sikap dan perilaku keagamaan dari orang-orang terdekat dalam keluarga.
c. Period of intuitive thought, 4 – 7 years. (Sama dengan fase b)
d. Period of concrete operations, 7 – 12 years. Anak sudah mampu memahami makna suatu masalah dengan menggunakan logika, misalnya melalui klasifikasi sederhana atau prinsip reversibilitas.
e. Period of formal operation, 12 – through adules cence. Fase kognisi pada usia remaja di mana anak sudah mampu memahami keagamaan dari segi fungsi dan maknanya bagi kehidupan manusia.

2. Peran Hubungan Orang Tua dengan Anak dalam Perkembangan Religiositas. Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas anak (Clark, 1958, hlm 87). Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep religiositas baik yang berkaitan dengan konsep-konsep keimanan(belief&faith), ibadah(ritual), maupun muamalah(ethic&moral).

Ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui proses hubungan orang tua dan anak. Hal pertama yaitu cara orang tua dalam berhubungan dengan anaknya yang akan menimbulkan emosional tertentu sehingga mempengaruhi situasi emosi dan sikap anak terhadap obyek yang menjadi perantara hubungan tersebut (Lugo, 1974, hlm 160). Hal yang kedua yaitu kualitas religiositas orang tua. Semakin tinggi tingkat religiositas orang tau akan semakin tinggi ekspresi perilaku keagamaannnya sehingga mudah teramati dan terserap oleh anak.

3. Peran Conscience, Guilt dan Shame dalam Perkembangan Religiositas. Conscience(kata-hati) adalah kemampuan untuk mengerti tentang benar dan salah, baik dan buruk. Guilt(rasa bersalah) adalah perasaan yang tumbuh setelah terbentuk kata hati-hati, yaitu perasaan bersalah yang muncul bila dirinya tidak berperilaku tidak sesuai dengan kata hatinya. Shame(rasa malu) yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraa penilaian negatif dari orang lain pada dirinya(Hurlock, 1978, hlm. 389).

Kata-hati, rasa-bersalah, serta rasa-malu dalam perkembangan religiositas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk dalam proses internalisasi nilai-nilai keagamaan pada usia anak. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata-hati adalah potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata-hati merupakan hasil dari proses belajar(Clark, 1958, hal.90)

Sebagai pengontrol perilaku kata-hati baru berfungsi ketika anak memasuki awal usia remaja. Pada usia anak perilaku individu pada awalnya lebih banyak diatur dan dibatasi oleh aturan dari lingkungannya. Kemudian secara pelan, ketika mulai terjadi proses internalisasi nilai dan norma, perilaku anak juga mulai dikontrol oleh diri sendiri. Pada waktu anak memasuki usia remaja kata-hati harus sudah banyak mengontrol perilaku mereka. Setelah individu sudah memasuki usia dewasa, sekitar usia dua puluh tahun, kata-hati harus sudah berfungsi sebagai internalized policemen(Hurlock, 1978, hlm 389)

4. Peran Interaksi Sosial dalam Perkembangan Religiositas Anak. Interaksi sosial adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, yaitu dengan kelompok kawan sepermaian dan kawan sekolah. Interaksi sosial mempunyai peran penting dalam perkembangan religiositas anak melalui dua hal sebagai berikut. Pertama, melalui interaksi sosial anak akan mengetahui apakah perilakunya yang telah terbentuk berdasarkan standard nilai religiositas dalam keluarga diterima atau ditolak oleh lingkungannya. Kedua, interaksi sosial akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya berperilaku sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya(Hurlock, 1978, hlm.390). Oleh karena itu interaksi sosial dapat juga melemahkan proses penanaman nilai-nilai religiositas yang telah terjadi dalam keluarga.

Keterangan: Tulisan Di atas adalah ringkasan dari Makalah Ibu Drs. Susilaningsih (Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi Agama di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

About pamungkasbirawa

Seorang hamba Alloh yang menginginkan makna dalam kehidupan yang sebentar ini dengan bisa bermanfaat untuk kemashlahatan orang banyak
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s