Kandungan Hadits Dihubungkan dengan Fungsi Nabi Muhammad


Rangkuman Bab III
Kandungan Hadis Dihubungkan dengan Fungsi Nabi Muhammad

Dinyatakan bahwa Nabi selain berfungsi sebagai Rosul, juga sebagai kepala negara, panglima perang, hakim, tokoh masyarakat, suami dan pribadi. Hadis Nabi dalam kapasitas sebagai Rosululloh ulama menyatakan wajib mamatuhinya, untuk hadis Nabi sebagai kepala negara dan pemimpin misalnya pengiriman angkatan perang dan pemungutan dana untuk baitul mal, ulama ada yang menyatakan bsahwa hadis tersebut tidak menjadi ketentuan syariat yang bersifat umum.

1. Lima Keutamaan Nabi Muhammad
Hadis Nabi manyatakan:

(20) Saya di karuniai lima macam hal, yang belum pernah di karuniakan kepada selain saya. Saya di tolong dalam peperangan sehingga perasaan musuh dalam peperangan menjadi gentar dalam masa peperangan yang memakan waktu sebulan; Bumi di jadikan sebagai tempat sholat yang suci bagi saya; dihalalkan bagi saya harta rampasan perang yang sebelumnya di haramkan; Saya di karunai kemampuan untuk m emberi syafaah; Saya di bangkitkan untuk manusia secara umum(seluruhnya)

Nabi muhammad ketika menyampaikan pernyataan itu berada dalam fungsi beliau sebagai rosululloh sebab informasi yang beliau sampaikan tidak didasarkan pertimbangan rasio, tetapi semata-mata petunjuk wahyu Alloh. Tetapi tidaklah berarti bahwa dalam fungsi Nabi Muhammad sebagai Rosululloh, pertimbangan rasio tidak di kenal sama sekali.

2. Para Pelukis yang Disiksa
Hadis Nabi menyatakan

(21) Sesunggguhnya orang-orang yang menerima siksaan yang paling berat di hadapan Alloh pada hari kiamat kelak ialah para pelukis.

Berbagai hadis Nabi yang berisi larangan melukis dan memajang lukisan makhluk bernyawa itu dinyatakan oleh Nabi dalam kapasitas beliau sebagai seorang Rasululloh. Larangan tersebut sesungguhnya memiliki latar belakang hukum (illat al hukum). Pada zaman Nabi masyarakat belum terlepas dari kebiasaan menyekutukan Alloh, Nabi Muhammad berusaha keras agar umat islam terlepas dari kemusyrikan tersebut.

Kalau illat hukumnya memang demikian, maka pada saat umat islam tidak di khawatirkan terjerumus pada kemusyrikan, khususnya terhadap penyembahan terhadap lukisan, maka memajang lukisan di bolehkan.

Kaidah ushul fiqh menyatakan:
Hukum itu berkisar dengan illat-nya (latar belakangnya), keberadaan dan ketiadaannya.

3. Kepala Negara dari Suku Quraisy (1)
Hadis Nabi menyatakan:

(22) Dalam urusan ( beragama, bermasyarakat dan bernegara) ini, orang Quraisy selalu (menjadi pemimpinnya) selama mereka masih ada walaupun tinggal dua orang saja.
(Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dari Abdullah.)

4. Kepala Negara dari Suku Quraisy (2)
Dalam riwayat Ahmad bin hambal, dari Abu Barzah bersanad shahih dan dari Anan binn Malik bersanad dha’if, dinyatakan bahwa Nabi bersabda:

(23)Pemimpin itu dari suku Quraisy. Sesungguhnya mereka mempunyai hak atas kamu sekalian dan kamu sekalian mempunyai hak atas mereka. Pada segi-segi mereka di tuntut untuk berlaku santun, maka mereka berlaku santun; dan kalau mereka menjadi hakim, maka mereka berlaku adil; Kalau meraka berjanji mereka penuhi. Kalalu ada dari kalangan mereka yang tidak berlaku demikian, maka orang itu akan memperoleh laknat dari Alloh, para malaikat dan umat seluruhnya.

Pemahaman secara tekstual terhadap hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya dalam sejarah telah menjadi pendapat umum ulama. Konon ulama yang mempelopori pemahaman secara kontekstual adalah ibnu khaldun (w.808H=1406M). Menurut ibnu khaldun, hak kepemimpinan bukan pada etnis Quraisy nya, melainkan pada kemampuan dan kewibawaannya. Pada masa Nabi yang memenuhi syarat sebagai pemimpin dan dipatuhi oleh masyarakat yang dipimpinnya adalah dari kalangan Quarisy. Apabila kandungan hadis-hadis di atas dihubungkan dengan fungsi Nabi, maka dapatlah dinyatakan bahwa pada saat hadis-hadis itu dinyatakan, Nabi berada pada fungsinya sebagai kepala negara atau pemimpin masyarakat. Yang menjadi indikasinya(qarinah) antara lain adalah ketetapan yang bersifat primordial, yakni sangat mengutamakan orang Suku Quraisy. Hal itu tidak sejalan dengan, misalnya, petunjuk Al-Qur’an yang menyatakan bahwa yang paling utama di hadirat Allah adalah yang paling bertakwa.

5. Pemimpin dari suku Habsyi
Ajaran yang bersifat universal tentang kepemimpian antara lain dikemukakan oleh hadis yang menyatakan :
[24] Dengarlah dan patuhlah kamu sekalian (kepada pejabat yang saya angkat) walaupun pejabat yang saya angkat untuk mengurus kepentingan kamu sekalian itu adalah hamba sahaya dari Habsyi yang (rambut) di kepalanya menyerupai gandum. (Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, dari Anas bin Malik)

Hadis yang dikutip terakhir menunjukan ciri utama ajaran Islam yang tidak membedakan keturunan dan warna kulit.

6. Keharaman Keledai Kampung
Hadis menyatakan :
[25] (Hadis riwayat) dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwa Nabi saw. Melarang makan daging keledai kampung. (Hadis riwayat Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

Dari kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa petunjuk hadis tersebut merupakan salah satu contoh bahwa Rasulullah memiliki kewenangan menetapkan hukun, yang dalam Al-Qur’an hukum itu tidak dinyatakan . Ulama berselisih pendapat tentang kandungan hukum hadis tersebut; sebagian menyatakan haram memakan daging keledai kampung dan sebagian lagi menyatakan makruh .

Perbedaan pendapat para sahabat Nabi dan Ulama tersebut antara lain menunjukan adanya perbedaan pandangan tentang fungsi Nabi tatkala beliau menyatakan hadis tersebut. Sebagian golongan berpandangan bahwa saat itu Nabi berfungsi sebagai Rasulullah; dan sebagian lagi berpandangan bahwa pada saat itu Nabi berfungsi sebagai kepala negara atau pemimpin masyarakat. Bagi golongan yang disebutkan pertama larangan bersifat universal, sedang bagi golongan yang disebutkan terakhir, larangan bersifat temporal dan atau lokal.

7. Keterbatasan Pengetahuan Hakim
Hadis menyatakan :
[26] (Hadis riwayat) dari Ummu Salamah r.a., isteri Nabi saw., dari Rasulullah saw. bahwasannya beliau mendengar pertengkaran di (muka) pintu kamar beliau. Maka beliau keluar (dari kamar untuk) menemui mereka, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya saya ini adalah manusia biasa. Sesungguhnya yang terlibat peretngkaran mendatangi saya, maka mungkin saja sebagian dari kamu (yang bertengkar) lebih mampu (berargumentasi) daripada pihak lainnya, sehingga saya menduga bahwa dialah yang benar, lalu saya putuskan (perkara itu) dengan memenangkannya. Barangsiapa yang saya menangkan (perkaranya) dengan mengambil hal saudaranya sesama muslim, maka sesunguhnya keputusan itu adalah potongan api neraka yang saya berikan kepadanya; (Terserah apakah) dia harus mengambilnya ataukah menolaknya.”

Hadis tersebut memberi petunjuk tentang pengakuan Nabi sebagai manusia biasa dan sebagai hakim. Dalam melaksanakan kedua fungsi itu, Nabi mengaku memiliki kekurangan, yakni mungkin saja dapat dikelabuhi oleh kepintaran pihak yang berperkara dalam mengemukakan argumen-argumen untuk memenangkan perkaranya, walaupun sesungguhnya apa yang dikatakannya itu tidak benar.

Apa yang berlaku bagi hakin sebagaimana yang dikemukakan oleh hadis Nabi tersebut bersifat universal. Dalam pada itu, keputusan yang ditetapkan oleh hakim di satu segi mungkin bersifat universal, temporal, ataupun lokal, sedang di segi yang lain, keputusan hakim itu mungkin benar dan mungkin tidak benar.

8. Hakin Berijtihad
Hakim dapat saja melakukan kesalahan dalam berijtihad. Dalam hal ini, Nabi saw. Bersabda:
[27] Apabila hakim dalam mengadili perkara melakukan ijtihad, kemudian ternyata ijtihadnyabenar, maka dia memperoleh dua pahala; Dan apabila hakim dalam mengadili perkara melakukan ijtihad, kemudian ternyata ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu pahala. (Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, dari Amr bin al-Ash)

Hadis tersebut mendorong hakim yang memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad. Dorongan Nabi dengan menjanjikan pahala itu, baik terhadap hakim yang hasil ijtihadnya benar maupun yang salah, merupakan dalil yang memungkinkan bagi hakim untuk menyampaikan bagian ajaran Islam yang bersifat universal, temporal, maupun lokal.

9. Cara Nabi Muhamad Berbaring
Dalam riwayat hadis Nabi dinyatakan :
[28] (Hadis riwayat) dari Abd Allah BIN Zaid bahwasannya dia telah melihat Rasulullah saw. Berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. (Riwayat hadis disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut memberi petunjuk tentang cara berbaring Nabi ketika itu, yakni dengan meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lainnya. Pada saat itu tampaknya Nabi sedang merasa nyaman dengan berbaring dalam posisi yang digambarkan oleh hadis di atas. Perbuatan itu dilakukan oleh Nabi dalam kapasitas beliau sebagai pribadi.

KOMENTAR :
Isi bab ini sangatlah bagus menyinggung mengenai fungsi Nabi Muhammad SAW, selain itu juga banyak memberi pengetahuan baru, yang saya maksudkan adalah manakala bab ini menyinggung tentang dua fungsi Nabi yang mempengaruhi fungsi hadis :
1. Dalam kapasitasnya sebagai Rasulullah, maka hadis menurut para ulama wajib mematuhinya.
2. Dalam kapasitas sebagai kepala negara dan pemimpin masyarakat, misalnya pengiriman angkatan perang dan pemungutan dana untuk baitul mal, kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa hadis tersebut tidak menjadi ketentuan syariat yang bersifat umum.

Mengenai isi, saya ingin menyoroti mengenai kepemimpinan Orang Quraisyi, menurut saya tidak sejalan dengan Al-Qur’an yang menganggap sama semua orang dan diukur dengan ketakwaannya. Saya lebih setuju dengan Ibnu Khaldin yang memaknai hadis tersebut secara kontekstual, karena pada masa Nabi orang yang memenuhi syarat dan dipatuhi adalah orang Quraisyi. Apabila pada suatu masa ada yang bukan suku Quraisyi memiliki kewibawaan dan kemampuan untuk memimpin maka dia dapat ditetapkan sebagai pemimpin, termasuk sebagai kepala negara. Mengutamakan suku Quraisyi memang bukan ajaran dasar dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi; hadis itu dikemukakan sebagai ajaran yang bersifat temporal.

About pamungkasbirawa

Seorang hamba Alloh yang menginginkan makna dalam kehidupan yang sebentar ini dengan bisa bermanfaat untuk kemashlahatan orang banyak
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s