Sekilas Tentang Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Pemikirannya


 

NURCHOLIS MADJID
a. Sekilas biografi Nurcholis madjid
Nurcholis madjid lahir di mojoanyar, jombang, Jawa Timur, pada tanggal 17 Maret 1939. Ayah Nurcholis, Haji Abdul Madjid, mempunyai hubungan yang baik  dan akrab dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantern Tebuireng, Jombang. Ketika Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dibentuk dan jabatan ketua umumnya dipercayakan kepada KH Hasyim Asy’ari, Abdul Madjid menyertai Masyumi. Bersama keluarganya, Nurcholis menikmati masa kanak-kanaknya di Jombang. Masa muda Nurcholis banyak dihabiskan di pesantren tempat dia menuntut ilmu. Dia menikahi Omi Komariah dan dikaruniai dua orang anak: Nadia dan Ahmad Mikail. Tinggal di Jakarta, keluarga ini hidup berbahagia, rukun dan harmonis menjalani kehidupan rumah tangganya. Nurcholis mempunyai menantu bernama David Bychkon (Suami Nadia).
Jombang, tempat kelahiran Nurcholis, adalah kota kabupaten yang masyarakatnya teet beragama dan banyak mempunya pondok pesantren, madrasah dan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Salah satu pondok pesantren yang terkenal sejak berdirinya hingga sekarang ini adalah Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, yang kemudian menjadi ulama besar dan sekaligus sebagai salah seorangtokoh pendiri dan dan pemimpin Nahdlatul Ulama, organisasi sosial keagamaan terbesr di Indonesia. KH Hasyim Asy’ari sebelum mendirikan pondoknya pada tahun 1940-an, dia belajar di Mekkah selama beberapa tahun dan mendalami hadits dan hukum Islam. Para santri yang belajar di Pesantren Tebuireng berasal dari berbagai daerah di Indonesia, terutama jawa dan Madura.Ketokohan dan keulamaan KH Hasyim Asy’ari menjadi daya pikat tersendiri bagi para (calon) santri, terutama di Jawa dan Madura, untuk berbondong-bondong belajar di Pondok Pesantren Tebuireng.
Menurut Dr Zamakhsyari Dhofier, alumnus jurusan antropologi Universitas Nasional Australia, dalam buku yang berasal dari disertasinya, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Pesantren Tebuireng terutama pada pertengahan abad ke-20 sangat memainkan peranan yang penting dan strategis  sebagai pencetak ulama  yang berkualitas tinggi. Dan sebagian dari para alumni inilah yang kemudian mendirikan, berkhidmad atau meminpin pesantren-pesantren di daerah-daerah asal mereka, terutama di Jawa dan Madura. Dengan demikian, pesantren-pesantren semakin berkembang dengan cepat dan rentangan jaringan-jaringan keilmuan pesantren semakin luas dan dikembangkanmelalui hubunga kyai-santri dan hubungan antar-pesantren secara berkesinambungan. Dalam pandangan Zamakhsyi Dhofier, pesantren memainkan peranan penting dalam memelihara dan melestarikan paham-paham keislaman tradisional.
Dalam atmosfir pendidikan dan lingkungan intelektual yan kondusif seperti itulah, Nurcholis-bersama teman sebayanya, Gus Dur / Abdurrahman Wahid-lahir di Jombang, tumbuh, berkembang dan kemudian muncul ke pentas nasional sebagai sosok yang berbobot dan bervisi akademis yang luas. Bibit, bebet dan bobot intelektualitas Nurcholis tumbuh dan berkembang dengan baik dalam suasana yang saling mendukung antara ketiga faktor utama tadi dan ditopang pula oleh atmosfir lingkungan kehidupan sosial yang agamis dan lingkungan pendidikan yang kondusif.
Nurcholis Madjid menyelesaikan pendidikannya di Pondok Darul Ulum (Redjoso, Jombang, 1955) dan Darus Salam Pondok Modern Gontor (Ponorogo, 1960). Di Pondok inilah, dia mulai membangun fondasi dan basis intelektualnya sehingga dia menguasai bahasa Arab dan Inggris. Kemudian Nurcholis melanjutkan studinya ke fakultas Adab UIN (Universitas Islam Negeri;sebelumnya bernama IAIN/Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, tamat tahun 1965 (B.A) dan 1968 (doktorandus). Program doktornya dia selesaikan pada tahun 1984 di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Dia menulis  disertasi berjudul ibn Taimiya on Kalam and Falsafah: Problem of Reason and Revelation in Islam di bawah bimbingan Profesor Fazlur Rohman, seorang sarjana Muslim Pakistan. Profesor Fazlur Rohman terkenal sebagai sarjana yang sangat mendalami bidang studi pemikiran Islam yang mengajar di Universitas Chicago pada saat itu.
Nurcholis, sebagai mahasiswa, tidak saja serius menekuni studinya di fakultasnya, akan tetapi juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan diskusi di luar kampus dan berkecimpung pula dalam berbagai kancah aktivitas extra kurikuler. Nurcholisn pernah menjadi pernah menjadi ketua umum PB HMI (Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Indonesia) selama dua periode (1967-1969 dan 1969-1971). Antara tahun 1967-1969, dia menjabat sebagai Presiden Persatuan Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara (Permiat). Salah satu wakilnya adalah Anwar Ibrahim (yang kemudian pernah menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Malaysia).
Nurcholis pernah bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (Leknas, LIPI, 1978-1984), peneliti senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1984-2005), menjadi anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) selama dua periode (10 tahun) di masa pemerintahan orde Baru (1987-1992 dan 1992-1997). Dia tercatat pulansebagai pakar dan anggota Dewan Riset Nasional dan dikenal sebagai penggagas pendirian Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Karena jasa-jasanya kepada negara dan bangsa, dia pada tahun 1998 dianugerahi Bintang Mahaputra oleh Pemerintah Republik Indonesia.[1]
b. Pemikiran Nurckolis Madjid tentang Masyarakat Madani
Pemikiran Nurcholis Madjid telah di gulirkannya semasa ia masih menjadi mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Pada waktu itu, Nurcholis Madjid banyak terlibat di organisasi kemahasiswaan. Kesibukan di organisasi tersebut memberikan ruang bagi Nurcholis madjid untuk ikut serta aktif menyikapi persoalan yang berkembang di masyarakat.
Jika dikaji secara teliti tulisan-tulisan Nurcholis Madjid yang berkembang dari era 70-an sampai sekarang, tampak sekali konsistensi pemikirannya. Konsistensi ini dapat pula di lihat sebagai suatu generalisasi pemikiran hingga munculnya ide masyarakat madani. Berikut ini akan dilihat kronologis ide dan gagasan Nurcholis Madjid hingga munculnya masyarakat madani.
1. Islam, Yes; Partai Islam, No!
Dalam konteks Indonesia  yang sedang mengalami proses modernisasi dalam berbagai bidang sosial, politik dan ekonomi jelas dibutuhkan sebuah agama yang mampu memberikan landasan nilai dan moral universal. Dalam kaitan ini, komitmen Nurcholis Madjid begitu tinggi dan terlihat jelas pada islam, bukan pada institusi keislaman. Sehingga ia melontarkan gagasan “Islam, Yes; Partai Islam, No!”, sebuah pemikiran baru menurut M. Syafi’i Anwar, yang di lontarkan Nurcholis Madjid untuk mengcounter banyaknya bermunculan partai-partai Islam ketika itu.
Lontaran Nurcholis Madjid, Islam Yes; Partai Islam, No! Juga berangkat dari kekecewaan atas partai-paratai Islam yang tidak berhasil membangun image positif dan simpatik, bahkan ada yang sebaliknya.
Dengan kata lain, penolakan terhadap institusi kepartaian politik Islam haruslah dipahami penolakan bukan karena Islamnya, tetapi penolakan terhadap penolakan pemanfaatan atas islam oleh merekayang terlibat dalam kehidupan partai politik Islam. Tingkah laku politik dan pemanfaatan Islam yang seperti itu pada gilirannya justru menjatuhkan nilai-nilai ajaran Islam yang sebenarnya.
Di sisi lain, gagasan “Islam Yes; Partai Islam, No!” menunjukan bahwa Nurcholis Mdjid memandang umat islam tidak patut mendirikan negara Islam dengan menjadikan Islam sebagai kendaraan politiknya. Pemikiran ini cukup beralasan, mengingat bangsa Indonesia yang sangat majemuk, bukan hanya dari suku, bangsa dan agama, tetapi kemajemukan yang sangat komplek sekali.[2]
Nurcholis Madjid ketika itu telah melihat umat Islam Indonesia tengah mengalami kejumudan kembali dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam. Padahal menurutnya Islam adalah dinamis, tidak statis. Oleh sebab itu, di samping gagasan “Islam Yes; Partai Islam, No!”, ia juga melontarkan gagasan tentang sekularisasi. Kedua gagasan tersebut secara eksplisit termuat dalam makalahnya “Keharusan Pembaharuan apaemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”.
2. Sekularisasi
Gagasan-gagasan yang dilontarkan Nurcholis Madjid di era 70-an, setidaknya telah berdampak pada kebebasan berpikir dan munculnya sikap keterbukaan di kalangan umat Islam Indonesia. Ide “sekularisasi” yang dikemukakan oleh Nurchalis ternyata tidak sebatas ide dan gagasan yang tanpa makna, serta kebarat-baratan. Kalangan menengah muslim mulai meranungkan dan mempelajari kembali gagasan Nurcholis Madjid tersebut, dan ternyata pemikiran untuk tidak mensakralkan segala sesuatu yang bersifat material duniawi, telah membuat masyarakat muslim menyadari hakikat nilai pluralisme, toleransi, dan penilaian yang serba tidak absolut.
Nurcholis Madjid membangun peta pembaharuan di hadapan intelektual yaitu sebuah agenda pembaharuan intelektual yang dipersiapkan untuk menggugurkan segala macam bentuk ajaran, kegemaran, maupun tradisi yang bersikukuh keras dengan caranya sendiri. Maka rancangan pembaharuan yang dimunculkan meliputi kebebasan intelektual dan gagasan mengenai kemajuan serta sikap keterbukaan. Paradigma inilah yang ditangkap dari gagasan sekularisasi.[3]
Disinilah terletak konsitensi terletak konsistensi pemikiran Nurcholis Madjid yang kemudian sangat relevan unttuk membicarakan masyarakat  madani sabagai landasan berpijak, sebab masyarakat madani menjunjung adanya keterbukaan, kebebasan yang bertanggung jawab dan kesediaan menerima realitas kehidupan bersama dalam kemajemukan plural harus dipandang sebagai sunnatullah.
Nurcholis madjid menekankan pentingnya diadakan pembaharuan setelah melihat persoalan yang dihadapi kaum muslim Indonesia. Menurutnya, Pembaharuan harus dimulai dengan dua tindakan, satu dengan yang lainnya saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai tradisional dan mencari nilai “baru” yang berorientasi ke masa depan. Dalam kaitan ini munculah ide “sekularisasi” yang sangat kontroversial. Gagasan sekularisasi ini banyak di kritik oleh tokoh-tokoh reformis lainnya, seperti H.M Rasjidi, Abdul Qodir Djailani, dan lain-lain.
Nurcholis madjid membedakan antara “sekulerisme” dengan “sekularisasi”. Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekulerisme dan mengubah kaum muslim menjadi sekularis. Sekularisasi yang yang dimaksudkan Nurcholis Madjid adalah sebuah proses pembebasan, yaitu untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk  mengukhrowikannya. Proses pembebasan ini di maksudkan Nurcholis Madjid untuk lebih memantapkan tugas manusia sebagai “khalifah Alloh di Bumi”. Tugas ini berimplikasi pada kebebasan manusia untuk menetapkan dan memiliki sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan-perbaikan hidupnya di atas bumi ini, sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu di hadapan Tuhan.[4]
Bagi banyak kalangan gagasan sekularisasi Nurcholis madjid tidak dapat diterima sebagai proses desakralisasi. Harun Nasution misalnya, sebagai tokoh modernis kontemporer yang berpendidikan Barat, juga berkesimpulan bahwa gagasan sekularisasi Nurchalis Madjid telah sampai ke tingkat pemisahan dunia akhirat, soal dunia adalah soal dunia dan soal akhirat adalah soal akhirat, Antara kedua bentuk itu terdapat garis pemisah yang jelas.
Pada umumnya gagasan tentang sekularisasi  yang dimaksudkan Nurcholis Madjid sebagai desakralisasi, ditolak atas dasar pengertian literal dari sekularisasi yang dekat maknanya dengan sekularisme. Sebab antara “sekularisasi” dan “sekularisme” berasal dari kata seaculum, bahasa latin yang beararti abad. Sekuler berarti seabad. Selanjutnya sekuler mengandung arti bersifat duniawi atau yang berkenaan dengan hidup dunia sekarang. Tetapi Nurcholis Madjid bertahan dengan pengertian bahwa sekularisasi bukanlah penerapan sekularisme, secularism is the name for an ideology, a new closed world view which function very much like a new religion.
Walaupun sampai sekarang gagasan ini masih tetap menjadi polemik, namun subatansi pemikiran Nurcholis Madjid yang ingin dikembangkan melalui gagasan sekularisasi telah banyak diikuti oleh kalangan Intelektual Islam, termasuk bagi mereka yang dulu terang-terangan menentangnya. Substansi dari gagasan sekularisasi ini dapat dilihat dalam komitmen keimanan, kemanusiaan dan kemodernan yang merupakan bagian integral dari pemikiran Nurcholis Madjid pada masa-masa selanjutnya.[5]
3. Komitmen Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan
Komitmen Nurcholis Madjid tentang keimanan, kemanusiaan dan kemodernan secara mendasar sebenarnya telah dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Nurcholis Madjid mulai pertengahan 80-an sampai sekarang. Ide dasarnya secara menyeluruh termuat dalam  karya besarnya Islam Doktrin dan Peradabann Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan.
Berbeda dengan tulisan Nurcholis Madjid dekade 70-an, pertengahan dekade 80-an sampai 90-an komitmen Nurcholis Madjid terhadap keimanan, kemanusiaan dan kemodernan semakin mendapat bentukdalam konteks keindonesiaan. Dekade 70-an Nurcholis Madjid tampil dengan gagasan-gagasan “kontras” yang menyentakkan tokoh-tokoh Islam “konservatif”, tetapi pertengahan dekade 80-an sampai 90-an ini Nurcholis Madjid tampil dengan ide-ide atau pemikiran yang secara substansial punya gebrakan “besar”, namun secara formal-simbolis terlihat basa-biasa saja. Suatu “ironi”, justru komitmen keimanan Nurcholis Madjid terlihat jelas setelah ia menyelesaikan studi di negara “modern” Barat yang selama ini dinilai lebih banyak mendeiskreditkan Islam.
Bila di lihat lebih jauh, tidak ada pertentangan substansial pemikiran Nurcholis Madjid mulai dekade 70-an hingga sekarang, Perjalanan pemikirannya  memperlihatkan suatu konsistensi yang jelas. Selanjutnya, secara jujur harus diakui bahwa ide ini turut merekonstruksi pemikiran Nurcholis Madjidsebagai sebuah sintesa pemikiran yang melihat ‘Islam Substansi” secara modern. Dengan kecakapan ini Nurcholis Madjid mampu menghadirkan pamikiran keislaman di kalangan elit.[6]
Komitmen ini berawal dari nilai universalisme Islam yang diadopsi Nurcholis Madjid dari pandangan al-Qur’an dan sunnah, kemudian pula oleh pemikiran Ibnu Taimiyah. Berangkat dari nilai universalisme Islam ini dituntutwatak inklusivisme Islam, karena walaupun golongan muslim sebagai kelompok mayoritas tetapi ia juga hidupberdampingan dengan agama-agama besar lainya seperti, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
Pemikiran universalisme Islam berangkat dari isyarat Al-Qur’an, misalnya Qs. Saba (34):28 dan al-Anbiya (21):107.Sehubungan dengan ini Nurcholis Madjid menegaskan bahwa yang pertama-tama menjadi sumber ide tentang universalisme Islam ialah pengertian perkataan “islam” itu sendiri. Term “Islam” di sini diartikan diartikan sebagai sikap pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang dibawa para Rosul secara silih berganti dalam sejarah umat manusia untuk menyamppaikan pesan yang sama yaitu “Islam”.
Dari pengertian dasar “islam” sebagai hukum ketundukan makhluk kepada Khaliknya tidak dalam artian nama agama yang dibawac oleh nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi dan Rosul, maka “islam” tidak bersifat temporal yang berlaku untuk suatu zaman atau kawasan tertentu melainkan berlaku untuk  seluruh zaman; lampau, sekarang dan nanti di semua kawasan tanpa terkecuali.[7]
Sehubungan dengan universalisme Islam, Nurcholis Madjid mengemukakan jika “islam” dipahami sebagai ajaran yang universal, maka hal ini tidak saja menghasilkan pandangan bahwa ia berlaku untuk semua tempat dan waktu, seperti yang telah dibuktikan oleh kaum muslim klasik. Sebaliknya universalisme Islam juga menghasilkan  pandangan dari arah lain yaitu bahwa kebenaran Islam dapat didekati  melalui angel berbagai pola budaya. Argumen yang dikemukakan Nurcholis Madjid, jika Islam itu universal dan jika keuniversalannya menghasilkan diutusnya para Rosul untuk setiap bangsa dan masa sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an, bearati bahwa kebenaran juga dapat ditemukan pada setiap bangsa dan waktu; kapan saja dan di aman saja. Dari sini sebenarnya telah terlihat bahwa Islam universal selalu memliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan budaya di mana ia tumbuh dan berkembang.
Oleh karena itu, menyikapi kemajemukan dalam konteks Indonesia (seperti masyarakat Yastrib yang ditemui nabi Muhammad pertama kali), maka dituntut inklusivisme Islam.
Inklusivisme Islam adalah sikap yang mesti dimilki umat  Islam yang hidup di tengah masyarakat yang plural. Inklusivisme Islam adalah implementasi dari azas pluralisme dan toleransi, bersifat demokratis dan terbuka sehingga Islam itu secara substansial dimiliki oleh semua agama sebagaimana yang dibawa Rosul sebelum Muhammad. Oleh sebab itu, dalam pandangan Nurcholis Madjid, prinsip-prinip Islam dimiliki semua ajaran yang benar yakni, semuanya mengajarkan sikap pasrah kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.[8]
Karena merupaka inti semua agama yang benar, maka al-Islam atau pasrah kepada Tuhan adalah pangkal adanya hidayah Ilahi kepada seseorang. Hal ini menjadi landasan universal kehidupan manusia yang berlaku untuk setiap orang, disetiap tempat dan waktu. Al-Islam (sikap pasrah pada Tuhan) menjadi titik temu semua agama-agama yang ada. Artinya semua agama berkeyakinan dab memiliki prinsip yang sama yaitu kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berkaitan dengan hal ini, Nurcholis Mdjid memperlihatkan bahwa indikator sebagai wujud titik kesamaan semua agama pada al-Islam. Agama Yahudu misalnya (sevagai kelanjutandari ajaran nabi Musa), pada dasarnya mengajarkan al-Islam, seperti yang ditegaskan al-Qur’an mengenai prinsip kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa untuk keturunan Isro’il dalam Qs. Ali Imron (3):52 dan Qs.al-Maidah (5):44.
Berangkat dari pemahaman Qs, Ali Imron (3):52 dan Qs. Al-maidah (5):44, Nurcholis Mdjid berpendapat bahwa Islam merupakan titik temu semua ajara yang benar, maka diantara sesama penganut yang tulus akan ajaran itu pada prinsipnya harus dibina hubungan dan pergaulan yang sebaik-baiknya. Sebab, seluruh umat pemeluk agama adalah umat yang tunggal. Ini dikarenakan oleh inti ajaran agama yang disampaikan Alloh kepada nabi Muhammad adalah sama dengan inti ajaran yang disampaikan oleh-Nya kepada semua Nabi.[9]
Menurut Nurcholis Madjid, sejalan dengan pandangan dasar itu Nabi diperintahkan untuk mengajak kaum ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) menuju kepada “kalimat kesamaan” (kalimat unsawa) yang pada prinsipnya menuju kepada ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid. Ajakan kepada kalimat un sawa untuk membenamkan klaim-kliam eksklusivistik kaum ahli kitab bahwa merekalah sebagai satu-satunya pihak yang bakal selamat atau masuk surga, seperti ditemui dalam Qs. al-Baqoroh (2):113.
Islam yang dikatakan sebagai titik temu (commom platform), sebagaimana dideskripsikan di atas, adalah dalam konteks ajaran-ajaran yang benar (agama-agama). Kemudian berkaitan dengan konteks keindonesiaan dilihat dari kemjemukan bangsa dan  konndisi real Indonesia “Pancasila” dipandang sebagai titk temu (commom flatform) antara umat yang berbeda-beda. Pandangan ini juga berangkat dari pemahaman tentang Islam itu sendiri.
Cak Nur menilai Pancasila tidak bertentangan dengan Islam melainkan bahwa mencerminkan anjuran dan prinsip-prinsip dalam al-Qur’an. Pancasila sering diistilahkan commom platform (kalimat-un sawa’) semua agama telah mempunyai hak dan status yang sama.
Sila Pancasila memuat nilai dasar tentang kerangka umum dalam hidup kebersamaan, sehingga wajib dipahami dan diikuti bersama. Umat Islam telah menanggapi secara positif keberadaan Pancasila, karena dari berbagai ayat Al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan, bahkan mendukung kehadiran falsafah ini. [10]
Nilai-nilai  Pancasila baik potensial maupun aktual, telah terkandung dalam ajaran semua agama yang ada. Nilai-nilai Pancasila adalah “titik temu” dari semua pandangan hidup yang ada di negara Indonesia termasuk pandangan yang dirangkum oleh agama-agama. Oleh karenanya, dengan sangat liberal Nurcholish Madjid mempertegas Pancasila dapat dipandang sepenuhnya sebagai “titik temu” antar umat yang berbeda-beda, hal itu merupakan perintah agama.
Pancasila dapat juga dikatakan sebuah ideologi modern. Hal itu tidak saja karena ia diwujudkan dalam zaman modern, tetapi ia juga memberi landasan filosofis bersama (common philosocopical ground) sebuah masyarakat plural yang modern yaitu masyarakat Indonesia. Maka di sini yang diperlukan adalah sikap untuk mengembangkan paham kemajemukan masyarakat atau pluralisme sosial dalam realistas masyarakatnya.
Di negara Indonesia kebebasan beragama sudah menjadi ketentuan yang termuat dalam konstitusi Indonesia. Nurcholish Majid mempertegas kembali bahwa negara di dasarkan atas kepercayaan kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan menjamin kebebasan beragama. Sehingga, lima agama resmi kemudian diakui : Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
Kesadaran tentang Pancasila yang dapat mempersatukan antar berbagai pemeluk agama yang sangat beragam di tanah air ini gilirannya menumbuhkan dinamika dialog positif kerjasama dengan program aksi yang bervariasi guna mewujudkan tujuan demi kepentingan bersama. Inilah format kerja sama antar pemeluk agama yang dilandasi azas “pluralisme positif” antar agama, yaitu kerja sama antar pemeluk agama dengan tetap berpegang pada ajarannya masing-masing tetapi juga menyumbangkan kekayaan etika dan moralitas keagamaan secara positif ke dalam masyarakat yang hendak dibangun bersama.[11]
4. Masyarakat Madani
Gagasan “masyarakat madani” bagi Nurcholish Madjid nampaknya merupakan titik kulminasi dari kronologis pemikirannya. Ide dan gagasan; Islam, Yes; Partai Islam, No!, sekulerisasi, dan komitmennya tentang keimanan, kemanusiaan dan kemodernan yang telah mencerminkan suatu sintesa pemikiran dari dua realitas yang merupakan posisi jalan tengah. Ide-ide ini menampakkan bentuknya yang konkrit dalam gagasan masyarakat madani.
Konsep masyarakat madani yang dikemukakan Nurcholis Madjid, yang merupakan konsep jalan tengah, sebab mensintesakan anatara peradaban(produk) “Barat” dan “Islam” amatlah relevan dengan sosok Nurcholish Madjid sendiri. Sebab, ia adalah tokoh yang memiliki wawasan dan pemahaman yang mendalam tentang khazanah ilmu-ilmu Islam klasik(yang bersumber dari kitab kuning) dan mempunyai wawasan keilmuan umum “modern”.
Rumusan masyarakat madani yang berangkat paradikma pemikiran Nurcholish Madjid-sebagaimana telah dideskripsikan sebelumnya- terasa lebih kompleks bila dibandingkan dengan konsep masyarakat madani yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh lainnya. Rumusan tersebut telah mencerminkan perpaduan kedua sumber khazanah “Barat” dan “Islam”.[12]
c. Kebebasan Beragama dan Pluralisme dalam Islam
Bagi setiap kelompok mempunyai tujuan, kesanalah Ia mengarahkannya; maka berlombalah kamu dalam mengerjakan kebaikan. Dimanapun kamu berada, Alloh akan menghimpun kamu karena Alloh berkuasa atas segalanya,(Qs. Al-Baqoroh/2:148).
Kutipan al-Qur’an di atas bisa dikatakan inti dan sekaligus pemahaman masalah kebebasan beragama dan pliralisme, menurut pandangan Islam. Itu dimulai dengan fakta bahwa umat manusia terbagi dalam berbagai kelompok, masing-masing memiliki tujuan hidup berbeda. Setiap komunitas diharapkan bisa menerima keanekaragaman sosial budaya, toleransi satu sama lain yang memberi kebebasan dan kesempatan bagi setiap orang menjalani kehidupannya menurut keyakinannya masing-masing. Yang dibutuhkan pada masyarakat majemuk adalah, agar masing-masing kelompok berlomba-lomba dalam jalan yang sehat dan benar. Karena, hanya Tuhan lah yang Maha Tahu, dalam arti asal, tentang baik atau buruk, benar atau salah.[13]
Dunia saat ini adalah dunia pluralitas. Pengaruh globalisasi telah merambah ke seluruh penjuru dunia. Kehidupan umat beragama di dunia yang transparan ini harus mempunyai visi yang tepat tentang agama mereka dan komunitas lainnya dengan kesadaran positif akan adanya perbedaan. Masing-masing komunitas, sebaiknya memahami dan mempertimbangkan secara serius kesadadarn diri masing-masing kelompok dan segala perbedaannya. Untuk itu dibutuhkan dialog antar umat beragama.
Apakah mungkin dialog antarumat beragama bisa dilaksanakan? Pertanyaan yang sering muncul dalam setiap pertemuan antarumat beragama adalah sahih sama sekali. Soalnya, sebagian besar orang, tampaknya, tak percaya tentang adanya kemungkinan dialog antar umat beragama. Yang lain percaya, bahkan mendukungnya. Dalam masalah ini, umat islam terbagi-bagi. Bagi yang menolak dialog, yakni mereka yang menuntut adanya kebenaran mutlak, berpendapat bahwa agama secara total berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Menurut mereka, jalan terbaik menghadapi umat lain adalah mengatakan, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”, seperti dikatakan Al-Qur’an. Bagi yang setuju, pegangannya perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad untuk mengajak ahli kitab pada ajaran yang sama antara Islam dan agama mereka.
Katakanlah : “Wahai ahli kitab! Marilah menggunakan istilah yang sama antara kami dan kamu : bahwa kita takkan saling mempertuhan selain Allah. Jika mereka berpaling; katakanlah: Saksikanlah bahwa kami orang-orang Muslim(tunduk pada kehendak Allah)” (Q.S Al-Imran/3:64). Di samping itu, Al-Qur’an juga menunjukkan konsep kemajemukan umat manusia dalam memahami sebagian maksud Tuhan. “Sekiranya Allah menhendaki niscaya Ia menjadikan kamu(sekalian) satu umat, tapi Ia hendak menguji kamu atas pemberian-Nya. Maka berlombalah kamu dalam kebaikan. Kepada Allah tempat kamu kembali, maka ditunjukkan kepadamu apa yang kamu perselisihkan.” (Q.S Al-Ma’idah/5:64).[14]
Pada dasarnya manusia satu umat, lalu Allah mengutus para nabi membawa berita gembira dan peringatan dan bersama mereka Allah menurunkan kitab yang membawa kebenaran  untuk memberi keputusan antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan; dan yang berselisih, hanya mereka yang beroleh Kitab setelah kemudian datang bukti-bukti nyata karena kedengkian antar sesama mereka. Maka dengan karuniaNya Allah telah memberi petunjuk orang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki, ke jalan yang lurus.” (Q.S Al-Baqarah/2:213)
Konsep kemajemukan umat manusia ini sangat mendasar dalam Islam. Itu, secara konsisten, dapat diubah ke dalam bentuk-bentuk pluralisme modern, yang merupakan toleransi. Pluralisme di sini dipahami sebagai “ikatan murni dari berbagai peradaban yang berbeda”. Pluralisme sejati memang jarang terjadi dalam sejarah. Tapi, Islam telah menunjukkan kemungkinan itu. Misalnya, yang ditunjukkan MAX I. Dimont, seorang sejarawan Yahudi, tentang masyarakat Islam di Spanyol.
“Selama 500 tahun di bawah pemerintahan Islam, membuat Spanyol untuk tiga agama dan “satu tempat tidur” : islam, Kristen dan Yahudi hidup rukun dan bersama-sama menyertai peradaban yang gemilang”.[15]
DAFTAR PUSTAKA
Ismail Faisal, Prof. Dr. H. M.A, Sekularisasi : Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid, Yogyakarta : Nawesea Press, 2008
Madjid Nurcholish dkk, Passing Over Melintasi Batas Agama, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utam, 1998
Yasmadi, Drs. M.A, Modernisasi Pesantren : Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, Jakarta : Ciputat Press, 2002

[1] Faisal Ismail, Sekularisasi; Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholis Madjid, Cet, ke 1 (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2008) hal 9-12
[2] Yasmadi, Modernisasi Pesantren; Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional, cet. Ke 1 (Jakarta: Ciputat press, 2002) hal 29
[3] Ibid hal 30
[4] Ibid hal 31
[5] Ibid hal 32
[6] Ibid hal 33
[7] Ibid hal 34
[8] Ibid hal 35
[9] Ibid hal 36
[10] Ibid hal 37
[11] Ibid hal 38
[12] Ibid hal 38
[13] Nurcholis Madjid dkk, Passing Over; Melintasi Batas Agama, cet. Ke 2(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999) hal 173
[14] Ibid hal 174
[15] Ibid hal 175

About pamungkasbirawa

Seorang hamba Alloh yang menginginkan makna dalam kehidupan yang sebentar ini dengan bisa bermanfaat untuk kemashlahatan orang banyak
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s