KEPEMUDAAN


FIGUR ORANG TUA YANG BERKUALITAS ADALAH WADAH TERBAIK PENCETAK PEMIMPIN BANGSA DI MASA DEPAN
Oleh Pamungkas Birawa Anoraga
Para orang tua bertanggung jawab akan masa depan Indonesia
Sering saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana ya, kondisi negara ini tiga puluh tahun ke depan? Lebih maju atau tambah “mundur”? Lantas muncul pertanyaan lain, maju mundurnya suatu negara itu sebenarnya menjadi tanggung jawab siapa? Apakah pemerintah? Fakta yang terjadi sekarang ini, setiap ada masalah sedikit, langsung pemerintah yang menjadi kambing hitam. Terlebih, persaingan antar partai politik sering bikin tambah runyam suasana. Saling menjatuhkan saingan politiknya, yang kebetulan sedang hoki duduk di pemerintahan. Berakibat masyarakat kecil menjadi “limbung” tidak punya pendirian. Mencerna begitu saja apa yang diterimanya lewat media.
Banyak ungkapan yang mengatakan bahwa masa depan suatu negara tergantung pada generasi mudanya. Saya sangat setuju akan hal itu. Berarti dengan kata lain, maju mundurnya Indonesia di masa mendatang sangat bergantung pada kualitas anak-anak kita. Nah, apakah baik buruknya kualitas anak-anak kita menjadi tanggung jawab pemerintah? Tentu saja tidak bukan? Sudah jelas disebutkan dalam ajaran semua agama, bahwa anak adalah titipan, yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tuanya. Kelak, saat Tuhan bertanya, “Kenapa anakmu bisa sebejat itu?”. Kita tidak bisa menjawab begini, “Itu salah pemerintah, Tuhan.”. Kalau toh kita tetap menjawab demikian, yang ada predikat kita akan bertambah, selain tidak becus mendidik anak juga suka melemparkan tanggung jawab pada orang lain.
Tantangan menjadi orang tua di era global
Menjadi orang tua di jaman sekarang memang tidaklah mudah. Permasalahan yang harus dihadapi sudah semakin komplek. Dan masalah paling utama yang menjadi akar dari semua masalah adalah menurunnya nilai moral luhur. Pesatnya perkembangan media terutama film dan sinetron, seringkali justru menyuguhkan contoh-contoh yang tidak baik. Berlomba-lomba dalam hal materi. Mendewakan cinta, sampai rela menjegal teman sendiri hanya demi mendapatkan orang yang dicintai. Fakta tersebut bertemu dengan karakteristik sebagian besar penonton Indonesia yang cenderung meniru tokoh-tokoh idolanya. Sehingga pada akhirnya semua kontent dari tayangan-tayangan tersebut, baik film maupun sinetron, menjadi sesuatu yang trend di antara generasi muda kita. Yang keren itu bukan lagi yang rajin belajar atau rajin baca buku di perpustakaan. Melainkan yang pakaiannya mengikuti trend mode terbaru, yang sering gonta-ganti pacar(laku keras), yang berani “memperjuangkan” cinta kalau perlu sahabat sendiri pun dijegal. Sifat-sifat seperti inilah, yang seringkali dianggap remeh, namun sebenarnya berdampak buruk yang kompleks, merembet meluas pada hal-hal lain dalam segala aspek kehidupan.
Semua pengaruh negatif tersebut tidak akan terlalu berpengaruh banyak, jika sebagai orang tua bisa membentengi anak-anaknya, dengan bekal pembentukan karakter dan personaliti yang kuat. Manusia dengan karakter yang kuat, akan bisa membedakan mana yang benar dan salah, tidak mudah terpengaruh, tau apa yang diinginkan dan dibutuhkan, juga mempunyai visi dan misi ke depan yang jelas.
Besik agama juga menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seseorang yang benar-benar mengenal Tuhannya, akan tau apa sebenarnya tujuan dia hidup di dunia, yang tidak lain hanyalah sebuah persinggahan sementara, yang harus selalu diisi dengan hal-hal positif. Menjadi manusia yang berguna bagi sebanyak-banyaknya sesama melalui bidangnya masing-masing. Juga menjadi perpanjangan tangan Tuhan, memberi makan yang lapar dan menolong yang kesusahan. Manusia-manusia yang  taat dan takut pada Tuhan, biasanya secara alami akan selalu bergerak ke arah segala sesuatu yang positif.
Persiapan menjadi sosok orang tua yang berkualitas
Tidak dapat dipungkiri, keadaan ekonomi sangat berpengaruh pada cara orang menjalani hidup. Seseorang dengan tingkat ekonomi yang mapan, cenderung lebih mempunyai banyak kesempatan untuk “mengembangkan” dirinya. Demikian halnya dengan sosok orang tua yang mapan secara ekonomi, akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mengajarkan banyak nilai-nilai positif pada anak-anaknya. Wajar, dia tidak lagi harus dipusingkan dengan permasalahan ekonomi seabreg, kebutuhannya hampir semua sudah terpenuhi. Berbeda halnya dengan para orang tua yang termasuk kategori miskin. Jangankan berfikir bagaimana caranya mendidik anak agar mempunyai personaliti yang baik, yang ada semua waktu dan pikirannya habis untuk memikirkan masalah kebutuhan makan sehari-hari, uang sewa rumah, biaya sekolah anak-anak, dan biaya kesehatan. Semua masalah itu sudah cukup membuat mereka “tertekan” secara psikologis.
Oleh karenanya, sebelum memutuskan untuk menjadi “orang tua”, hendaknya kita menyiapkan diri terlebih dahulu secara matang. Memantabkan diri dalam berbagai hal, mapan dalam ekonomi juga matang secara emosional. Jangan pernah menggantungkan kelangsungan dan kesejahteraan hidup kita pada pihak lain, termasuk pemerintah! Kadang, kita sering terlalu bergantung pada pemerintah, saat pemilihan presiden baru misalnya, berharap kesejahteraan rakyat akan meningkat, kesehatan gratis, juga pendidikan gratis. Bagaimana kalau semua paradikma itu kita rubah? Diri sendirilah yang bertanggung jawab penuh atas keadaan kita di masa sekarang maupun masa depan. Mau jadi apa dan seperti apa hanya tergantung pada usaha kita.
Memang tidak selamanya keadaan ekonomi masing-masing individu memungkinkan seseorang untuk leluasa mengeksplor bakat dan kemampuannya. Ada jauh lebih banyak yang keadaan ekonominya sama sekali tidak berpihak, bahkan hanya untuk makan saja sulit. Tapi hal tersebut bukan alasan. Justru biasanya anak-anak yang sudah mengalami kesulitan ekonomi sejak kecil, akan tertempa menjadi pribadi yang tangguh dan tahan batin. Wouw, sebuah modal awal yang luar biasa! Kebanyakan, para pengusaha sukses itu memulai semuanya dari nol, sama sekali tidak mempunyai apa-apa. Dengan ketekunan, keuletan dan kerja kerasnya lah, mereka bisa berubah from zero to hero (sumber : acara televisi yang menayangkan kisah-kisah para pengusaha sukses yang memulai semuanya dari nol).
Kesulitan, kendala dan tantangan jangan sampai menjadi suatu pembenaran untuk terus mengeluh, atau bahkan menghiba belas kasihan dari orang lain. Mengeluh dan menghiba tidak akan mendatangkan apapun, yang ada justru akan menurunkan harga diri kita sebagai individu. Akan lebih bagus, jika semua “rintangan” itu justru membuat kita lebih kreatif dan inovatif, juga jeli melihat peluang. Banyak peluang-peluang besar sebenarnya berasal dari sesuatu yang simple, yang sebelumnya bahkan dianggap remeh oleh kebanyakan orang. Nah, di situlah seninya, hal-hal yang dianggap remeh orang, biasanya akan jarang tersentuh. Seandainya bisa mengambil momentum tersebut niscaya akan menjadi yang pertama(pionir) atau bahkan satu-satunya.
Data statistik menunjukkan bahwa baru 0,18% penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai pengusaha/entrepreneur (Kompas). Sebuah negara akan maju dan berkembang pesat jika minimal 2% penduduknya menjadi pengusaha, entah pengusaha mikro, kecil, menengah, maupun pengusaha besar. Sebagai pembanding, Amerika Serikat yang notabene merupakan sebuah negara yang sangat maju mempunyai 12% pengusaha dari total penduduknya, Singapura 7%, Cina dan Jepang juga sekitar 10%.
Dari data sensus penduduk 2010, penduduk Indonesia mencapai 237.556.363 orang, sebuah peluang pasar yang sangat menjanjikan bukan? Dengan jumlah penduduk yang sebegitu banyak, sangat sayang kalau tidak dimanfaatkan. Jumlah pengusaha Indonesia yang masih sangat sedikit, hanya 0,18 % saja dari total penduduk Indonesia, dengan kata lain peluang untuk menjadi pengusaha-pengusaha baru masih terbuka lebar. Daripada harus berdesak-desakan bersaing memperebutkan kursi PNS, yang terkadang satu kursi diperebutkan ratusan bahkan ribuan orang. Disinilah letak perbedaan besar antara Indonesia dengan Singapura, kalau di Indonesia generasi mudanya berlomba-lomba untuk menjadi PNS, sedangkan di sana justru berlomba-lomba bersaing menjadi pengusaha yang sukses. Tidak aneh, walau Singapura hanya sebuah negara dengan wilayah yang sangat kecil, namun secara pertumbuhan ekonomi jauh lebih maju daripada Indonesia. Mari para generasi muda Indonesia, kita sama-sama berlomba-lomba menjadi pengusaha yang sukses, bersaing menggali ide-ide kreatif yang unik, belum pernah ada, out of the box, yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Semangat!
Jangan pernah menyerah sebelum mencoba, meskipun mungkin secara akal manusia dirasa mustahil. Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak (Kun Fa Yakun). Saat melewati fase memulai, mungkin kegagalan demi kegagalan akan datang silih berganti. Jangan terkejut, atau bahkan lantas menyerah, stay cool saja. Dalam sebuah proses yang namanya kegagalan adalah hal biasa. Justru, dari kegagalan demi kegagalan itulah, kita akan mendapatkan banyak pelajaran berharga, yang bisa menjadi bahan referensi dalam melangkah ke depannya. “Kegagalan” adalah sebuah investasi masa depan yang harus segera direalisasikan keuntungannya!
Oke kawan, selamat berjuang! Demi sebuah penghidupan yang lebih baik dan sejahtera. Jangan sampai karena kemalasan kita, ataupun ketakutan untuk mencoba, akan berimbas buruk pada anak-anak kita di masa mendatang. Coba bayangkan, bagaimana sedih dan hancur leburnya perasaan, saat nanti karena “ulah” diri sendiri, anak-anak kitalah yang harus merasakan kesengsaraan, berada dalam kemiskinan, makan saja sulit, bersekolah tidak mampu, atau mau berobat saja tidak sanggup. Hah, jangan sampai deh semua itu terjadi, pasti akan sangat menyesakan dada.
Menjadi orang tua sekaligus individu yang briliant
Figur orang tua yang berkualitas, akan berawal dari sosok individu yang briliant. Sebelum menjalankan tugas sebagai orang tua pencetak pemimpin bangsa yang unggul di masa depan, kita jangan melupakan tugas sebagai generasi muda yang harus turut serta dalam proses kemajuan bangsa. Bagaimana caranya? Tidak usah muluk-muluk, cukup mulailah dari hal-hal kecil. Menjadi seseorang yang benar-benar “ahli” dalam bidangnya, sehingga bisa mempunyai manfaaf yang besar bagi banyak orang. Coba bayangkan, jika setiap generasi muda Indonesia benar-benar “ahli” dalam bidangnya, tentu Indonesia akan mempunyai banyak profesionalisme-profesionalisme muda yang siap berperan aktif dalam pembangunan. Semuanya akan berjalan dengan sukses karena dikerjakan oleh para tenaga ahli dalam bidangnya masing-masing. Kata kemajuan pun tidak akan menjadi sebuah khayalan belaka.
Selain itu, potensi “kemudaan” kita yang identik dengan gesit, cekatan, punya segudang ide briliant harus dimanfaatkan secara optimal. Jangan mau tinggal diam manakala sejuta ide baru bertebaran di otak. Memang, biasanya ide-ide baru itu seringkali diinterpretasikan “aneh” oleh banyak orang. Tapi jangan pernah menyerah, cukup bayangkan saja bagaimana bahagianya kita saat ide-ide yang awalnya dianggap “aneh” itu pada akhirnya akan menjadi sesuatu yang berguna dan diterima luas oleh banyak orang. Pasti semua cibiran dan hinaan yang pada mulanya kita terima, akan langsung berubah menjadi sanjungan dan pujian.
Kita bisa melihat ke belakang, bukannya proses kemerdekaan negara kita ini, berawal dari gerakan generasi-generasi muda yang merasa resah dan ingin berbuat sesuatu untuk bangsa tercintanya. Diawali dengan pembentukan perkumpulan Budi Utomo dan diakhiri dengan indah sebagai puncak perjuangan mereka yaitu momentum proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sebuah gerakan para revolusioner muda Indonesia yang terus-menerus dan pantang menyerah, pada akhirnya bisa mewujudkan sesuatu yang awalnya dianggap sangat mustahil, yaitu kemerdekaan Indonesia.
Sebuah contoh yang sangat mulia dari para pendahulu bangsa ini. Dulu saja, yang notabene dalam keadaan masih terjajah dan tentu saja berada di bawah tekanan musuh, masih bisa melakukan sesuatu yang luar biasa. Masa, kita sekarang yang jelas-jelas sudah merdeka, tidak melakukan apapun untuk bangsa ini. Aduh, harusnya malu dong? Kita tidak perlu seperti para pendahulu yang berperang melawan penjajah. Satu-satunya yang harus kita perangi pada masa sekarang hanyalah diri sendiri, mau tidak melawan kemalasan dan rasa “takut” yang ada.
Menjadi orang tua yang berkualitas bagi anak-anaknya, sekaligus individu briliant yang mempunyai banyak manfaat bagi sesama adalah sebuah paket yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Keduanya saling mendukung satu sama lain. Disamping melaksanakan tugas dan kewajiban mendidik calon-calon pemimpin bangsa yang unggul di masa depan, kita juga harus tetap mengaktualisasikan diri secara maksimal, agar bisa tetap “utuh” sebagai individu, dan juga stabil secara emosional.
Tugas mencetak calon-calon pemimpin bangsa yang unggul di masa depan memang tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi, juga membutuhkan perhatian yang ekstra. Namun, jika setiap orang tua Indonesia melakukannya dengan sungguh-sungguh, impian bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju dan besar di masa depan bukanlah isapan jempol belaka, melainkan menjadi sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Modal sumber daya alam, jumlah penduduk, luas wilayah, keanekaragaman budaya, potensi kemaritiman sudah tersedia secara berlimpah di negeri ini. Tinggal satu saja yang belum ada, sumber daya manusia briliant yang bisa mengolah semua itu secara maksimal. Kawan-kawan semua, tugas kita untuk mewujudkan semua impian ini. Semangat….(^_^)
Sumber :
Kompas, Wikipedia, tayangan di televisi yang menayangkan kisah-kisah pengusaha sukses yang memulai usahanya dari nol.

About pamungkasbirawa

Seorang hamba Alloh yang menginginkan makna dalam kehidupan yang sebentar ini dengan bisa bermanfaat untuk kemashlahatan orang banyak
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s