Indikator dan Pengukur Rasa Agama


NO DIMENSI RASA AGAMA ITEMS
1 DOCTRINE 1. Apakah benar Allah SWT akan mengampuni orang-orang yang bertaubat?
2. Apakah benar hari pembalasan itu memang benar adanya?
3. Apakah benar Allah SWT akan melapangkan dan menyempitkan rejeki orang-orang yang dikehendakiNYA?
4. Apakah benar Allah SWT akan memberikan balasan kebaikan yang besar bagi orang-orang yang bersabar?
2 RITUAL 1. Sudahkah kita melaksanakan solat lima waktu dalam sehari?
2. Sudahkah kita berpuasa penuh selama bulan Ramadhan?
3. Sudahkah kita membayar zakat fitrah sebelum idul fitri?
4. Sudahkah kita membayar zakat maal sebanyak 2.5% dari harta kita?
3 KNOWLEDGE 1. Sudahkah kita memahami betul arti dari ketauhidan?
2. Sudahkah kita memahami makna dari akhlak kepada Sang Khalik, sesama makhluk dan alam sekitar? Serta mengamalkannya?
3. Sudahkah kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mendalami buku-buku tentang keislaman?
4 EMOTION 1. Apakah kita pernah meragukan keadilan Allah SWT?
2. Apakah kita sudah bisa khusyu menikmati setiap solat kita? Ataukah hanya baru sebatas menggugurkan kewajiban saja?
3. Pernahkah hati kita bergetar saat diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an?
4. Pernahkah kita merasakan ketenangan bathin saat bermunajat kepada Allah SWT di tengah solat tahajud kita?
5 ETHICS 1. Bagaimana pendapat Anda tentang minuman keras, narkoba, zina dan korupsi?
2. Bagaimana sebaiknya cara kita dalam memperlakukan saudara sesama manusia baik yang miskin ataupun kaya?
3. Bagaimana sebaiknya cara seorang muslim berbicara pada orang lain?
6 COMMUNITY 1. Seberapa sering kita salat berjamaah di masjid/mushola?
2. Pernahkah kita aktif terlibat dalam penyelenggaraan acara pengajian di lingkungan tempat tinggal kita?
3. Sudahkah kita berbagi sebagian kelebihan harta kepada sesama yang membutuhkan?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ilmu Terikat Nilai


ILMU TERIKAT NILAI

Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang tidak bebas nilai (valuebond) memandang bahwa ilmu itu selalu terkait dengan nilai dan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan aspek nilai.
Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, lepas dari kepentingan-kepentingan baik politis, ekonomis, sosial, religius, ekologis dsb. Salah satu filosof yang memegangi teori valuebond adalah Jurgen habermas. Dia berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu ada kepentingan-kepentingan. Yang membedakan tiga macam ilmu dengan kepnentingan masing-masing. Pengetahuan yang pertama berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis. Ilmu-ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam secar empiris dan meyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Teori-teori ilmiah disusun agar darinya dapat diturunkan pengetahuan terapan yang bersifat teknis. Pengetahuan teknis ini menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia mengelola dunia atau alamnya. Pengetahuan yang kedua mempunyai pola yang sangat berlainan, sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, memperlancar hubungan sosial. Pengetahuan ini oleh Habermas disebut dengan studi historis Harmenetik. Sifat historis memperlihatkan adanya gjala perkembangan dari objek yang diselidiki, yakni manusia. Hasil yang bisa diperoleh dari sini adalah kemampuan komunikasi, saling pengertian karena pemahaman makna. Inilah arti hemenetik dimaksudkan, yaitu penafsiran menurut tatacara tertentu yang dihasilkanoleh pengetahuan itu. Aspek kemasyarakatan yang dibicarakan di sini adalah hubungan sosial atau interaksi, sedangkan kepentingan yang dikejar oleh pengetahuan ini adalah pemahaman makna. Sementara itu pengetahuan ketiga adalah teori kritis, yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Sadar diri sangat dipentingkan disini. Aspek sosial yang mendasarinya adalah dominasi kekuasaan dan kepentingan yang dikejar adalah pembebasan atau emansipasi manusia.
Jelas sekali dalam pandangan habermas bahwa ilmu sendiri dikonstruksi untuk keoentingan- kepentingan tertentu, yakni nilai rasional antara manusia dan alam, manusia dn manusia, dan nilai penghormatan terhadap manusia. Jika lahirnya ilmu saja terkait dengan nilai, maka ilmu itu sendiri tidak mungkin bekerja lepas dari nilai. (1)
Habermas berpendidikan teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai. Pendirian ini diwarisi habermas dari pandangan Husserl yang melihat fakta atau objek alam dipelukan oleh pengetahuan alam sebagai pengetahuan yang sudah jadi (scientisme). Fakta atau objek itu sebenarnya sudah tersusun secar spontan dan primordial dalam pengalaman sehari-hari, dalam lebenswelt atau dunia sebagaimana dihayati. Setiap ilmu pengetahuan mengambil dari lebenswelt itu sejumlah fakta yang kemudian diilmiahkan berdasarkan kepentingan-kepentingan praktis. Hebermas menegaaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan-kepentingan teknis. Ilmu pengetahuan alam tidaklah netral, karena isi tidak yterlepas sama sekali dari kepentingan praktis. Ilmu sejarah dan hermenetika juga ditentukan oleh kepentingan-kepentinga praktis kendati denga cara yang berbeda. Kepentinganya ialah memelihara serta memperluas bidang saling pengertian antara manusia dan perbaikan komunikasi. Setiap kegiatan teoritis yang melibatkan pola subjek-subjek selalu mengandung kepentingan tertentu. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu 1 pekerjaan , 2. Bahasa dan 3. Otoritas. Pekerjaan merupakan kepentingan ilmu alam ; bahasa merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermenetika; sedangkan ototritas merupakan kepentingan ilmu sosial. (2)

(1) Buku: Filsafat Ilmu
Pengarang: Pokja akademik
Hal :123-124
(2) Buku : Filsafat Ilmu
Pengarang : Drs. Rizal Mustansyir M.Hum dan Drs. Misnal Munir M.Hum
Hal : 172-173

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkembangan Religiositas Pada Usia Anak


PERKEMBANGAN RELIGIOSITAS PADA USIA ANAK

Religiositas berkembang semenjak usia dini melalui proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri manusia (Clark, 1958, hlm. 85). Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada perilaku sehari-hari. Proses perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja, dan dewasa.

Karakteristik Religiositas Usia Anak
Rumusan Clark tentang delapan karakteristik religiositas pada anak :
1. Ideas accepted on authority : Semua pengetahuan yang dimiliki anak semua datang dari luar dirinya terutama dari orangtuanya.
2. Unreflective : Anak menerima konsep keagamaan berdasarkan otoritas, maka jarang terdapat anak yang melakukan perenungan(refleksi) terhadap konsep keagamaan yang diterima.
3. Egocentric : Mulai usia sekitar satu tahun pada anak berkembang kesadaran tentang keberadaan dirinya.
4. Antropomorphic : Sifat anak yang mengkaitkan keadaan sesuatu yang abstrak dengan manusia.
5. Verbalized and ritualistic : Perilaku keagamaan pada anak, baik yang menyangkut ibadah maupun moral, baru bersifat lahiriyah, verbal dan ritual.
6. Imitative : Sifat dasar anak dalam melakukan perilaku sehari-hari adalah menirukan apa yang terserap dari lingkungannya.
7. Spontaneous in some respects : Berbeda dengan sifat imitatif anak dalam melakukan perilaku keagamaan, kadang-kadang muncul perhatian secara spontan terhadap masalah keagamaan yang bersifat abstrak.
8. Wondering : Ini bukan ketakjuban yang mendorong munculnya pemikiran kreatif dalam arti intelektual, tetapi sejenis takjub yang menimbulkan rasa gembira dan heran terhadap dunia baru yang terbuka di depannya.

Proses Perkembangan Religiositas Anak
Religiositas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang berkesinambungan dari lahir sampai menjelang usia remaja. Dalam proses tersebut faktor internal dan eksternal berperan.

Empat faktor yang berpengaruh dalam proses perkembangan religiositas anak yaitu :
1. Peran Kognisi dalam Perkembnagan Reliositas Anak. Konsep tentang nilai-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar pembentukan religiositas masuk ke dalam diri anak melalui kemampuan kognisi. Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dari luar individu.

Pada usia anak menurut Plaget perkembangan kognisi mengalami empat dari lima fase perkembangan berikut ini yaitu :
a. Period of sensorimotor adaption, birth – 2 years. Anak sedang dalam proses mengaktifkan semua alat inderanya untuk berfungsi secara baik dalam menyerap informasi.
b. Development of symbolic and preconceptual thought, 2-4 years. Pengalaman keagamaan terbentuk melalui pembiasaan perilaku dan pnyerapan terhadap semua sikap dan perilaku keagamaan dari orang-orang terdekat dalam keluarga.
c. Period of intuitive thought, 4 – 7 years. (Sama dengan fase b)
d. Period of concrete operations, 7 – 12 years. Anak sudah mampu memahami makna suatu masalah dengan menggunakan logika, misalnya melalui klasifikasi sederhana atau prinsip reversibilitas.
e. Period of formal operation, 12 – through adules cence. Fase kognisi pada usia remaja di mana anak sudah mampu memahami keagamaan dari segi fungsi dan maknanya bagi kehidupan manusia.

2. Peran Hubungan Orang Tua dengan Anak dalam Perkembangan Religiositas. Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas anak (Clark, 1958, hlm 87). Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep religiositas baik yang berkaitan dengan konsep-konsep keimanan(belief&faith), ibadah(ritual), maupun muamalah(ethic&moral).

Ada dua masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui proses hubungan orang tua dan anak. Hal pertama yaitu cara orang tua dalam berhubungan dengan anaknya yang akan menimbulkan emosional tertentu sehingga mempengaruhi situasi emosi dan sikap anak terhadap obyek yang menjadi perantara hubungan tersebut (Lugo, 1974, hlm 160). Hal yang kedua yaitu kualitas religiositas orang tua. Semakin tinggi tingkat religiositas orang tau akan semakin tinggi ekspresi perilaku keagamaannnya sehingga mudah teramati dan terserap oleh anak.

3. Peran Conscience, Guilt dan Shame dalam Perkembangan Religiositas. Conscience(kata-hati) adalah kemampuan untuk mengerti tentang benar dan salah, baik dan buruk. Guilt(rasa bersalah) adalah perasaan yang tumbuh setelah terbentuk kata hati-hati, yaitu perasaan bersalah yang muncul bila dirinya tidak berperilaku tidak sesuai dengan kata hatinya. Shame(rasa malu) yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraa penilaian negatif dari orang lain pada dirinya(Hurlock, 1978, hlm. 389).

Kata-hati, rasa-bersalah, serta rasa-malu dalam perkembangan religiositas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk dalam proses internalisasi nilai-nilai keagamaan pada usia anak. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata-hati adalah potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata-hati merupakan hasil dari proses belajar(Clark, 1958, hal.90)

Sebagai pengontrol perilaku kata-hati baru berfungsi ketika anak memasuki awal usia remaja. Pada usia anak perilaku individu pada awalnya lebih banyak diatur dan dibatasi oleh aturan dari lingkungannya. Kemudian secara pelan, ketika mulai terjadi proses internalisasi nilai dan norma, perilaku anak juga mulai dikontrol oleh diri sendiri. Pada waktu anak memasuki usia remaja kata-hati harus sudah banyak mengontrol perilaku mereka. Setelah individu sudah memasuki usia dewasa, sekitar usia dua puluh tahun, kata-hati harus sudah berfungsi sebagai internalized policemen(Hurlock, 1978, hlm 389)

4. Peran Interaksi Sosial dalam Perkembangan Religiositas Anak. Interaksi sosial adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, yaitu dengan kelompok kawan sepermaian dan kawan sekolah. Interaksi sosial mempunyai peran penting dalam perkembangan religiositas anak melalui dua hal sebagai berikut. Pertama, melalui interaksi sosial anak akan mengetahui apakah perilakunya yang telah terbentuk berdasarkan standard nilai religiositas dalam keluarga diterima atau ditolak oleh lingkungannya. Kedua, interaksi sosial akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya berperilaku sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya(Hurlock, 1978, hlm.390). Oleh karena itu interaksi sosial dapat juga melemahkan proses penanaman nilai-nilai religiositas yang telah terjadi dalam keluarga.

Keterangan: Tulisan Di atas adalah ringkasan dari Makalah Ibu Drs. Susilaningsih (Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi Agama di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Review Buku Psikologi Perkembangan Islam


REVIEW BUKU PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ISLAMI
ALIYAH B. PURWAKANIA HASAN

DATA BUKU
Judul Buku : Psikologi Perkembangan Islami
Pengarang : Aliah B. Purwakania Hasan
Penerbit : Rajagrafindo Persada
Jumlah Halaman : 369

Psikologi Perkembangan Islami merupakan salah satu buah dari pemikran dan usaha-usaha islamisasi ilmu pengetahuan atau sains yang makin marak belakangan ini, sejalan dengan makin kuatnya semangat dari umat muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, untuk menunjukkan bahwa memang Islam-lah rahmat bagi seluruh alam.
Buku karangan Aliah B. Purwakania Hasan ini memang sangatlah bagus. Isinya sangat lengkap membahas secara detail mengenai psikologi perkembangan islami. Mulai dari paradigma dasar psikologi perkembangan islam; faktor hereditas dalam perkembangan; perkembangan prakelahiran; perkembangan fisik; perkembangan kognitif; perkembangan emosional; perkembangan sosial; perkembangan bahasa; perkembangan peran jenis kelamin; perkembangan moral; perkembangan spiritual; kematian dan kehidupan setalah mati.
Penulis juga mengemukakan bahwa umat Islam memerlukan metode penelitian yang sesuai untuk mengembangkan psikologi dalam perspektif Islam. Untuk itu perlu dilihat ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. Ayat qauliyah berasal dari al-Quran dan Hadis, sedangkan ayat kauniyah berasal dari pengamatan alam semesta. Pendekatan yang lebih pas untuk psikologi Islam adalah gabungan antara metodologi Tafsir al-Quran dan Hadis serta metode ilmu pengetahuan modern pada umumnya.
Pendekatan yang dilakukan oleh penulis dalam menyampaikan pemikirannya tentang psikologi perkembangan islami ini bukanlah sebuah kritik maupun kecaman terhadap arus-arus psikologi yang memang telah mapan. Melainkan lebih kepada memberi wawasan Islam pada konsep-konsep psikologi kontemporer serta memanfaatkan hasil-hasil pemikiran ahli-ahli psikologi aliran kontemporer tersebut dalam usaha peningkatan kesejahteraan manusia, jika justru ditemukan hal-hal yang justru tidak sesuai, maka mari sama-sama kita memperbaikinya.
Berangkat dari pengertian psikologi sebagai ilmu yang menelaah perilaku manusia, para ahli psikologi umumnya berpandangan bahwa kondisi ragawi, kualitas kejiwaan, dan situasi lingkungan merupakan penentu utama perilaku dan corak kepribadian manusia. Dalam hal ini unsur rohani tidak masuk hitungan, karena dianggap termasuk dimensi kejiwaan dan merupakan penghayatan subjektif semata. Di samping itu, filsafat manusia yang melandasi psikologi bercorak antroposentrisme di mana manusia ditempatkan sebagai pusat dari segala pegalaman dan segenap relasinya serta penentu utama segala peristiwa yang berkaitan dengan manusia dan kemanusiaan.
Sampai akhir abad keduapuluh, terdapat empat aliran besar psikologi yakni Psikoanalisis, Perilaku (Behaviorisme), Humanistik, dan Transpersonal. Masing-masing aliran melihat manusia dari sudut pandang berbeda, dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, lalu membangun teori dan filsafat tentang manusia.
Aliran Psikoanalisis yang dipelopori oleh Freud (1856 – 1939) berangkat dari pengalaman dengan para pasiennnya. Ia menemukan berbagai dimensi dan prinsip tentang manusia, kemudian menyususn teori yang sangat mendasar, majemuk, serta luas implikasinya dalam bidang ilmu-ilmu sosial, humaniora, filsafat, dan ilmu agama, serta memberikan inspirasi terhadap berbagai karya seni.
Freud berpendapat bahwa kepribadian manusia terdiri atas tiga sistem yaitu Id (dorongan-dorongan biologis), Ego (kesadaran terhadap realitas kehidupan), dan Superego (kesadaran normatif) yang berinteraksi satu sama lain dan masing-masing memiliki fungsi dan mekanisme yang khusus. Id adalah berbagai potensi yang terbawa sejak lahir, insting dan nafsu primer, sumber energi psikis yang memberi daya kepada Ego dan Superego untuk menjalankan fungsi-fungsinya. Selain dari itu, manusia juga memiliki tiga tingkatan kesadaran yaitu Alam Sadar (The Conscious), Alam Prasadar (The Preconscious), dan Alam Taksadar (The Unconscious). Psikoanalisis klasik dari Freud beranggapan bahwa perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh Alam Taksadar dan dorongan-dorongan biologis (termasuk nafsu) yang selalu menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Dengan demikian, Psikoanalisis klasik beranggapan bahwa pada hakikatnya manusia adalah buruk, liar, kejam, sarat nafsu, egois dan sejenisnya yang berorientasi pada kenikmatan jasmani.
Aliran Perilaku (Behaviorisme) beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya netral, baik buruknya perilaku seseorang dipengaruhi oleh situasi dan perlakuan yang dialaminya. Psikologi Perilaku memberikan sumbangan besar dengan ditemukannya asas-asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan, psikoterapi, pembentukan kebiasaan, perubahan sikap, dan penertiban sosial melalui law enforcement.
Dalam Psikologi Perkembangan, terdapat tiga aliran yang mempengaruhi perkembangan seseorang. Yaitu aliran Nativisme, dipelopori Arthur Schopenhauer (1788-1860), yang menitik beratkan pada pandangan bahwa peran sifat bawaan dan keturunan sebagai penentu perkembangan tingkah laku, persepsi tentang ruang dan waktu tergantung pada faktor-faktor alamiah atau pembawaan dari lahir.
Aliran kedua adalah empirisme, yang dipelopori John Locke (1632-1704) menitik beratkan pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penentu perkembangan tingkah laku. Ketiga, aliran Konvergensi, dipelopori William Stern (1871-1929) yang menggabungkan dua aliran di atas.
Dalam konteks Islam, Nabi SAW menjelaskan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan itu, antara lain:
Pertama, faktor hereditas. Dalam sebuah hadits Nabi SAW menjelaskan tentang pengaruh ini: Seorang dari Bani Fazarah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Istriku telah melahirkan anak berkulit hitam,” ia seakan-akan tidak mengakuinya. Rasulullah bersabda, “Apakah kamu memiliki unta?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Rasulullah bertanya, ”Apa warnanya?” Lelaki itu menjawab, ”Merah.” Rasulullah bertanya lagi, ”Apakah ada warna hitam pada unta itu?” Lelaki itu menjawab, “Sebenarnya kehitam-hitaman. Entah dari mana datangnya warna itu.” Rasulullah bersabda, “Mungkin karena faktor keturunan.” (HR. Ahmad). Dari hadits ini tergambar bahwa faktor hereditas mempengaruhi warna kulit seseorang, ciri-ciri fisik tidak harus diwarisi dari orangtuanya saja, tapi bisa juga dari nenek moyang. Sifat fisik inilah yang disebut sifat keturunan.
Kedua, faktor lingkungan. Pengaruh lingkungan juga tak kalah penting. Nabi SAW menerangkan bagaimana pengaruh orangtua terhadap agama, moral, dan psikologis perkembangan anak: ”Tiadalah seorang anak itu dilahirkan kecuali dalam keadaan suci. Maka kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari)
Ketiga, faktor ketentuan Allah. Dalam perspektif Islam, terdapat faktor ketentuan Allah yang juga sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan. Karena Allah memiliki kontrol penuh atas segalanya, dengan kekuatan dan pengaruh-Nya.
Faktor ketiga ini menjadi lebih signifikan dan dominan, karena ia yang memantau dan menjaga besarnya kekuatan alam, dan berpengaruh pada kehidupan dan perkembangan manusia.
Menurut saya, buku ini dapat memperluas perspektif kita dalam memahami islam maupun ilmu Psikologi itu sendiri. Dengan perspektif yang lebih luas, tentunya makin banyak sisi yang dapat kita gali dan optimalkan dalam menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan dan kemanusiaan yang ada pada zaman ini. Sangat cocok bagi mereka yang menaruh minat pada kajian-kajian islam, kajian ilmu-ilmu psikologi, maupun bagi mereka memang sudah berkecimpung dalam bidang psikologi ini (mahasiswa psikologi, dosen, psikolog, peneliti, dsb).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkembangan Rasa Agama dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam


PERKEMBANGAN RASA AGAMA DAN IMPLIKASI PENDIDIKAN AGAMA

1. Usia Anak
a. Awal 0 sampai dengan 6 tahun
Kognisi : Indrawi, Intuitif, fantasi
Pemaparan :
Materi Indrawi:
Disini anak belajar banyak dari indra, maka materi yang disampaikan haruslah mendukung aspek kognitifnya yaitu kognisi indrawi misalnya dengan mengenalkan pada anak, nama-nama benda yang dilihatnya, yang didengarnya, dan yang disentuhnya dengan alat indranya bisa juga menunjukan materi itu dengan gambar-gambar atau mainan yang mendunkung kognisi indrawi si anak sehingga materi dapat diterima dengan baik.

Materi Intuitif :
Disini anak harus berkembang perasaanya atau intutifnya cara yang tepat adalah dengan memberi materi berupa lagu-lagu misalnya :
Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau dilangit yang biru
PelukisMu agung siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan
Dengan dikenalkan meteri berupa lagu-lagu diharapkan intuitif anak dapat berkembang dengan baik.

Materi Fantasi :
Untuk kognisi fantasi materi yuang diberikan berupa materi yang membuat fantasi si anak berkembang seperti kisah-kisah atau dongeng yang dengan sendirinya membuat si anak berkembang fantasinya misalnya kisah nabi musa yang mebelah lautan dengan tongkatnya akan membuat si anak berfantasi dan melatih kognisi fantasinya.

b. Awal 6 sampai dengan 12 tahun
Kognisi : Ingin tahu, konkrit, dogmatis, realistik, harfiah
Pemapara :
Materi ingin tahu :
Untuk kecerdasan kognisi yang berifat ingin tahu rasa keingintahuanya haruslah dikembangkan kerena akan berpengaruh nantinya pada daya imajinatif anak dalam berfikir contoh pengembanganya yaitu memberikan meteri yang membuat rasa ingin tahu si anak terlatih dan terus berkembang.
Materi kokrit :
Untuk kecerdasan kognisi yang bersifat konkrit si anak haruslah diajarkan materi-materi yang bersofat konkrit bukan abstrak yang dimiliki remaja, misalnya mengajarkan sholat dengan cara membawa anak untuk langsung praktek sholat sehingga hal-hal konkritlah yang diajarkan pada anak usia ini.
Materi Dogmatis :
Untuk kecerdasan yang bersifat dogmatis anak biasanya menuruti dogma-dogma yang diberikan oleh orang yang lebih dewasa maka sudah sewajarnya kita memberikan materi berupa arahan atau dogma-dogma yang baik pada si anak misalnya bahwa sholat itu wajib jika tinggal sholat itu berdosa dan jika berdosa masuk neraka. Begitulah contoh pengembangan kecerdasan dogmatis.
Materi realistik :
Untuk ini anak diberikan hal-hal yang realistik misalnya hadiah dan hukuman karena anak masih sangat susah untuk menjangkau hal-hal yang tidak realistik.
Materi Harfiah :
Untuk materi ini si anak perlu langsung diajarkan hal-hal yang bersifat harfiah yang terangkum dalam buku langsung dijelaskan pada anak, contoh metodenya adalah dengan memberikan buku bacaan pada anak.

2. Usia Remaja
Kognisi: Abstrak, rasional, maknawi, tidak dogmatis.
Pemaparan:

Materi abstrak:

Untuk kecerdasan yang remaja bersifat abstrak ini berbeda dengan kecerdasan anak yang bersifat konkrit pada anak, remaja harus di ajarkan hal-hal yang bersifat abstrak yang sesuai dengan kognisinya, misal bila pada waktu kecil solat sebagai kewajiban di rubah menjadi abstrak bahwa sholat itu adalah suatu kebutuhan.

Materi rasional:

Untuk materi rasional ini remaja di ajarkan hal-hal yang bersifat rasional, misalnya bahwa sholat bisa menentramkan hati bukan hanya sholat sebagai kewajiban maupun kebutuhan.

Mareri maknawi:

Jika pada usia anak adalah harfiah maka pada remaja adalah lebih dalam lagi yaitu mengungkap makna misalnya makna dari suatu baacaan, misal makna sholat, metode yang tepat adalah memberikan arahan untuk mengkaji makna dari buku bukan sekedar membaca.

Tidak dogmatis

Remaja sudah tidak dogmatis karena telah mulai memikirkan ulang apa yang di dapatnya,, metodeyang tepat adalah memberikan arahan tapi si remaja di harapkan klebih kritis terhadap arahan itu,karena remajasudah tidak dogmatis laqgi kognuisinya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Al Qur’an (Qs. at-Taubah Ayat 122)


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan pendidikan : MAS. Al-Kautsar
Mata Pelajaran : Al-Qur’an
Kelas/Semester : IX/II
Alokasi waktu : 1 X 25 Menit
I. Standar Kompetensi
• Menerapkan QS At taubah ayat 122 dalam kehidupan sehari-hari
II. Kompetensi Dasar
• Memahami isi kandungan QS attaubah ayat 122
III. Indikator
Siswa dapat:
• Membaca QS At taubah ayat 122
• Menghafal QS At taubah ayat 122
• Mengetahui sebab turunnya QS At taubah ayat 122
• Menjelaskan kandungan isi QS At taubah ayat 122
IV. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi pelajaran dengan strategi kontekstual/kooperatif learning siswa mampu membaca dan menjelaskan kandungan isi QS At taubah ayat 122 tentang kewajiban
menuntut ilmu.
Materi Pembelajaran
• Pemahaman isi kandungan QS At taubah ayat 122.
Uraian materi
• Membaca QS At taubah ayat 122
• Menjelaskan isi kandungan QS At taubah 122
V. Pendekatan
• Etis
• Rasional
• Cooperative/kontektual learning

VI. Kegiatan Pembelajaran
• Giving Question And Get The Answer
• College Ball
• Topical Review
VII. Langkah Pembelajaran
1. Kegiatan awal (3 menit)
• Guru memberi salam dan memulai pelajaran dengan berdo’a bersama
• Guru menarik perhatian siswa.
• Apersepsi
• Guru memberikan pre-test
• Guru menjelaskan indicator yang hendak di capai
2. Kegiatan inti ( 20 menit)
• Guru membacakan QS At taubah ayat 122
• Siswa mendengarkan penjelasan dari Guru
• Guru membentuk beberapa kelompok diskusi
• Guru meminta masing-masing kelompok untuk menulis pemahaman siswa tentang isi surat QS At taubah ayat 122 di selembar kertas..
• Siswa mempresentasikan hasil diskusi .
3. Kegiatan akhir (2 menit)
• Guru mengadakan pos test
• Guru memberikan penekanan/penegasan materi (topical review).
• Mengakhiri pelajaran dengan doa
• Guru menutup dengan salam.
VIII. Penilaian
IX. Tes lisan
Jelaskan isi QS At taubah ayat 122!
Lafalkan QS At taubah ayat 122!

X. Sumber :
• H. Masykur Rohim Dkk, Selected Verses & Hadith: Untuk MA/SMA Islam Kelas IX, Bogor: Ummul Quro foundation, 2008.
• M.Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah, (Volume 5), Jakarta : Lentera Hati Press, 2009

XI. Alat
• Rangkuman materi di selembar kertas
• HVS

Yogyakarta, 29 April, 2010
Mengetahui
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Dr. Mahmud Arief Pamungkas Birawa Anoraga
NIP. NIM. 09410195

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kandungan Hadits Dihubungkan dengan Fungsi Nabi Muhammad


Rangkuman Bab III
Kandungan Hadis Dihubungkan dengan Fungsi Nabi Muhammad

Dinyatakan bahwa Nabi selain berfungsi sebagai Rosul, juga sebagai kepala negara, panglima perang, hakim, tokoh masyarakat, suami dan pribadi. Hadis Nabi dalam kapasitas sebagai Rosululloh ulama menyatakan wajib mamatuhinya, untuk hadis Nabi sebagai kepala negara dan pemimpin misalnya pengiriman angkatan perang dan pemungutan dana untuk baitul mal, ulama ada yang menyatakan bsahwa hadis tersebut tidak menjadi ketentuan syariat yang bersifat umum.

1. Lima Keutamaan Nabi Muhammad
Hadis Nabi manyatakan:

(20) Saya di karuniai lima macam hal, yang belum pernah di karuniakan kepada selain saya. Saya di tolong dalam peperangan sehingga perasaan musuh dalam peperangan menjadi gentar dalam masa peperangan yang memakan waktu sebulan; Bumi di jadikan sebagai tempat sholat yang suci bagi saya; dihalalkan bagi saya harta rampasan perang yang sebelumnya di haramkan; Saya di karunai kemampuan untuk m emberi syafaah; Saya di bangkitkan untuk manusia secara umum(seluruhnya)

Nabi muhammad ketika menyampaikan pernyataan itu berada dalam fungsi beliau sebagai rosululloh sebab informasi yang beliau sampaikan tidak didasarkan pertimbangan rasio, tetapi semata-mata petunjuk wahyu Alloh. Tetapi tidaklah berarti bahwa dalam fungsi Nabi Muhammad sebagai Rosululloh, pertimbangan rasio tidak di kenal sama sekali.

2. Para Pelukis yang Disiksa
Hadis Nabi menyatakan

(21) Sesunggguhnya orang-orang yang menerima siksaan yang paling berat di hadapan Alloh pada hari kiamat kelak ialah para pelukis.

Berbagai hadis Nabi yang berisi larangan melukis dan memajang lukisan makhluk bernyawa itu dinyatakan oleh Nabi dalam kapasitas beliau sebagai seorang Rasululloh. Larangan tersebut sesungguhnya memiliki latar belakang hukum (illat al hukum). Pada zaman Nabi masyarakat belum terlepas dari kebiasaan menyekutukan Alloh, Nabi Muhammad berusaha keras agar umat islam terlepas dari kemusyrikan tersebut.

Kalau illat hukumnya memang demikian, maka pada saat umat islam tidak di khawatirkan terjerumus pada kemusyrikan, khususnya terhadap penyembahan terhadap lukisan, maka memajang lukisan di bolehkan.

Kaidah ushul fiqh menyatakan:
Hukum itu berkisar dengan illat-nya (latar belakangnya), keberadaan dan ketiadaannya.

3. Kepala Negara dari Suku Quraisy (1)
Hadis Nabi menyatakan:

(22) Dalam urusan ( beragama, bermasyarakat dan bernegara) ini, orang Quraisy selalu (menjadi pemimpinnya) selama mereka masih ada walaupun tinggal dua orang saja.
(Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dari Abdullah.)

4. Kepala Negara dari Suku Quraisy (2)
Dalam riwayat Ahmad bin hambal, dari Abu Barzah bersanad shahih dan dari Anan binn Malik bersanad dha’if, dinyatakan bahwa Nabi bersabda:

(23)Pemimpin itu dari suku Quraisy. Sesungguhnya mereka mempunyai hak atas kamu sekalian dan kamu sekalian mempunyai hak atas mereka. Pada segi-segi mereka di tuntut untuk berlaku santun, maka mereka berlaku santun; dan kalau mereka menjadi hakim, maka mereka berlaku adil; Kalau meraka berjanji mereka penuhi. Kalalu ada dari kalangan mereka yang tidak berlaku demikian, maka orang itu akan memperoleh laknat dari Alloh, para malaikat dan umat seluruhnya.

Pemahaman secara tekstual terhadap hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya dalam sejarah telah menjadi pendapat umum ulama. Konon ulama yang mempelopori pemahaman secara kontekstual adalah ibnu khaldun (w.808H=1406M). Menurut ibnu khaldun, hak kepemimpinan bukan pada etnis Quraisy nya, melainkan pada kemampuan dan kewibawaannya. Pada masa Nabi yang memenuhi syarat sebagai pemimpin dan dipatuhi oleh masyarakat yang dipimpinnya adalah dari kalangan Quarisy. Apabila kandungan hadis-hadis di atas dihubungkan dengan fungsi Nabi, maka dapatlah dinyatakan bahwa pada saat hadis-hadis itu dinyatakan, Nabi berada pada fungsinya sebagai kepala negara atau pemimpin masyarakat. Yang menjadi indikasinya(qarinah) antara lain adalah ketetapan yang bersifat primordial, yakni sangat mengutamakan orang Suku Quraisy. Hal itu tidak sejalan dengan, misalnya, petunjuk Al-Qur’an yang menyatakan bahwa yang paling utama di hadirat Allah adalah yang paling bertakwa.

5. Pemimpin dari suku Habsyi
Ajaran yang bersifat universal tentang kepemimpian antara lain dikemukakan oleh hadis yang menyatakan :
[24] Dengarlah dan patuhlah kamu sekalian (kepada pejabat yang saya angkat) walaupun pejabat yang saya angkat untuk mengurus kepentingan kamu sekalian itu adalah hamba sahaya dari Habsyi yang (rambut) di kepalanya menyerupai gandum. (Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, dari Anas bin Malik)

Hadis yang dikutip terakhir menunjukan ciri utama ajaran Islam yang tidak membedakan keturunan dan warna kulit.

6. Keharaman Keledai Kampung
Hadis menyatakan :
[25] (Hadis riwayat) dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwa Nabi saw. Melarang makan daging keledai kampung. (Hadis riwayat Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

Dari kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa petunjuk hadis tersebut merupakan salah satu contoh bahwa Rasulullah memiliki kewenangan menetapkan hukun, yang dalam Al-Qur’an hukum itu tidak dinyatakan . Ulama berselisih pendapat tentang kandungan hukum hadis tersebut; sebagian menyatakan haram memakan daging keledai kampung dan sebagian lagi menyatakan makruh .

Perbedaan pendapat para sahabat Nabi dan Ulama tersebut antara lain menunjukan adanya perbedaan pandangan tentang fungsi Nabi tatkala beliau menyatakan hadis tersebut. Sebagian golongan berpandangan bahwa saat itu Nabi berfungsi sebagai Rasulullah; dan sebagian lagi berpandangan bahwa pada saat itu Nabi berfungsi sebagai kepala negara atau pemimpin masyarakat. Bagi golongan yang disebutkan pertama larangan bersifat universal, sedang bagi golongan yang disebutkan terakhir, larangan bersifat temporal dan atau lokal.

7. Keterbatasan Pengetahuan Hakim
Hadis menyatakan :
[26] (Hadis riwayat) dari Ummu Salamah r.a., isteri Nabi saw., dari Rasulullah saw. bahwasannya beliau mendengar pertengkaran di (muka) pintu kamar beliau. Maka beliau keluar (dari kamar untuk) menemui mereka, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya saya ini adalah manusia biasa. Sesungguhnya yang terlibat peretngkaran mendatangi saya, maka mungkin saja sebagian dari kamu (yang bertengkar) lebih mampu (berargumentasi) daripada pihak lainnya, sehingga saya menduga bahwa dialah yang benar, lalu saya putuskan (perkara itu) dengan memenangkannya. Barangsiapa yang saya menangkan (perkaranya) dengan mengambil hal saudaranya sesama muslim, maka sesunguhnya keputusan itu adalah potongan api neraka yang saya berikan kepadanya; (Terserah apakah) dia harus mengambilnya ataukah menolaknya.”

Hadis tersebut memberi petunjuk tentang pengakuan Nabi sebagai manusia biasa dan sebagai hakim. Dalam melaksanakan kedua fungsi itu, Nabi mengaku memiliki kekurangan, yakni mungkin saja dapat dikelabuhi oleh kepintaran pihak yang berperkara dalam mengemukakan argumen-argumen untuk memenangkan perkaranya, walaupun sesungguhnya apa yang dikatakannya itu tidak benar.

Apa yang berlaku bagi hakin sebagaimana yang dikemukakan oleh hadis Nabi tersebut bersifat universal. Dalam pada itu, keputusan yang ditetapkan oleh hakim di satu segi mungkin bersifat universal, temporal, ataupun lokal, sedang di segi yang lain, keputusan hakim itu mungkin benar dan mungkin tidak benar.

8. Hakin Berijtihad
Hakim dapat saja melakukan kesalahan dalam berijtihad. Dalam hal ini, Nabi saw. Bersabda:
[27] Apabila hakim dalam mengadili perkara melakukan ijtihad, kemudian ternyata ijtihadnyabenar, maka dia memperoleh dua pahala; Dan apabila hakim dalam mengadili perkara melakukan ijtihad, kemudian ternyata ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu pahala. (Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, dari Amr bin al-Ash)

Hadis tersebut mendorong hakim yang memenuhi syarat untuk melakukan ijtihad. Dorongan Nabi dengan menjanjikan pahala itu, baik terhadap hakim yang hasil ijtihadnya benar maupun yang salah, merupakan dalil yang memungkinkan bagi hakim untuk menyampaikan bagian ajaran Islam yang bersifat universal, temporal, maupun lokal.

9. Cara Nabi Muhamad Berbaring
Dalam riwayat hadis Nabi dinyatakan :
[28] (Hadis riwayat) dari Abd Allah BIN Zaid bahwasannya dia telah melihat Rasulullah saw. Berbaring di dalam masjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. (Riwayat hadis disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut memberi petunjuk tentang cara berbaring Nabi ketika itu, yakni dengan meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lainnya. Pada saat itu tampaknya Nabi sedang merasa nyaman dengan berbaring dalam posisi yang digambarkan oleh hadis di atas. Perbuatan itu dilakukan oleh Nabi dalam kapasitas beliau sebagai pribadi.

KOMENTAR :
Isi bab ini sangatlah bagus menyinggung mengenai fungsi Nabi Muhammad SAW, selain itu juga banyak memberi pengetahuan baru, yang saya maksudkan adalah manakala bab ini menyinggung tentang dua fungsi Nabi yang mempengaruhi fungsi hadis :
1. Dalam kapasitasnya sebagai Rasulullah, maka hadis menurut para ulama wajib mematuhinya.
2. Dalam kapasitas sebagai kepala negara dan pemimpin masyarakat, misalnya pengiriman angkatan perang dan pemungutan dana untuk baitul mal, kalangan ulama ada yang menyatakan bahwa hadis tersebut tidak menjadi ketentuan syariat yang bersifat umum.

Mengenai isi, saya ingin menyoroti mengenai kepemimpinan Orang Quraisyi, menurut saya tidak sejalan dengan Al-Qur’an yang menganggap sama semua orang dan diukur dengan ketakwaannya. Saya lebih setuju dengan Ibnu Khaldin yang memaknai hadis tersebut secara kontekstual, karena pada masa Nabi orang yang memenuhi syarat dan dipatuhi adalah orang Quraisyi. Apabila pada suatu masa ada yang bukan suku Quraisyi memiliki kewibawaan dan kemampuan untuk memimpin maka dia dapat ditetapkan sebagai pemimpin, termasuk sebagai kepala negara. Mengutamakan suku Quraisyi memang bukan ajaran dasar dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi; hadis itu dikemukakan sebagai ajaran yang bersifat temporal.

Posted in Uncategorized | Leave a comment